Me of Colorful

Mengarisbawahi maksud dari judul tersebut sejenak buat kita berpikir dulu layaknya menjawab soal-soal yang rumit. Seiring pertambahan usia tujuan juga berganti-ganti daftar list yang awalnya tak terhingga jadi bisa dihitung menandakan jalan tidak semulus yang terlihat. 

Dengan kata lain kadang harus mengesampingkan hal dengan kenyataan yang ada di depan mata. Kembali ke pertanyaan tentang tujuan lho berarti hidup tanpa tujuan bisa gitu? Menurutku jelas tidak bisa pada dasarnya tujuan lah yang menentukan alur hidup agar memiliki perspektif atau ide pikiran yang ujungnya balik ke tujuan tadi tergantung bagaimana merealisasikannya. Ada banyak pilihan, pertama tujuan sejak awal berniat yaitu mereka yang tidak ragu tanpa hasutan kedua tujuan itu air mengalir yaitu mereka yang tidak seratus persen bersungguh-sungguh ketiga tujuan seperti pembelajaran yaitu mereka selalu berusaha cari sesuatu yang baru keempat tujuan kompleks yaitu mereka memandangnya secara lumrah kelima tujuan ibarat warna abu-abu yaitu mereka yang bimbang menempatkan diri.

Penjabaran diatas ambil contoh kecil saja tentunya simpulkan masing-masing tujuanmu. Aku pribadi ada di pilihan ketiga berusaha mencari toh semua sama tidak harus muluk-muluk satu yang penting kamu harus bisa bahagiakan dirimu dan sekitarmu, enjoy the rewards on your life.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bertemu musim lainnya di Memory (Spring)


Kring. Terdengar kayuhan sepeda Maura menuju kedai sederhana di pesisir pantai. Baju terusan selutut dipadukan kardigan merah muda menambah kesan musim panas. Ada banyak kucing liar datang untuk tidur di kedainya apalagi bila temperatur di atas tigapuluh tiga derajat Selsius kedai Maura bisa menjadi tempat penangkaran. Maura berjongkok mengelus kucing coklat yang bergelayut manja di kakinya dari seekor kucing inilah ia tau cara menikmati hidup.

Aku ingin menceritakan sosok gadis bernama Maura kisah yang kutemui saat berada di benua Amerika musim panas tahun lalu. Berbeda dengan kisah-kisah lain ini tentang makna pencarian diri ibaratkan oase di tengah gurun pasir.

Maura dengan senyuman khas telaten menyiapkan menu pesanan. Setiap sudut kedai tidak pernah kosong oleh pengunjung walau sekadar mampir beristirahat. Aku ingat, ada kalimat Maura yang selalu ditanyakan padaku. “Kau tau kesederhanaan dalam kebahagiaan?” Hanya perumpaan pendek tidak perlu jawaban, katanya. Sementara bagiku kalimat itu sangat cocok dengan kondisiku. Memandang lekat wajah Maura berharap ia memberi jawaban.

“Hey, jangan menatap begitu aku jadi kecewa.”

Baguslah ia tau aku sedang memaksanya. Apalagi pagi seperti ini waktu yang tepat untuk berbincang karena belum banyak pengunjung datang. Maura tau betul jadwal kunjunganku yaitu di pagi hari mulai pukul sembilan sampai pukul satu siang, sebelum aku masuk ke laut menyalurkan hobiku. Menyelam.

“Kau akan tau jawabannya selama tidak menutup sebelah matamu.” Maura berkata pelan, nadanya terdengar serius. Seperkian detik aku diam hanya bisa menatap punggungnya membelakangiku sedang sibuk menata kursi-kursi. Aku takut kalau nanti ia tersinggung di hari pertemuan kami ke-empatbelas yang masih status-belum-akrab.

Seraya meminum americano yang mulai dingin, aku bisa melihat hamparan air biru dari tempatku duduk. Latar alam yang nyata dalam menjernihkan pikiran satu alasan menyelam adalah hobiku. Maura gantian menatap.

“Setelah ini mau pindah kemana?”

Aku menyeringai, hampir lupa dengan kepindahan.

Sepuluh tahun di Amerika sayangnya aku baru tau ada tempat tenang seperti ini hanya beberapa hari saat akan pindah benua.

“Belum memastikan akan kemana yang pasti dekat laut.”

“That’s right, dekat laut berarti kau sudah memastikannya.” lirih Maura mengejek.

Ah, biarkan saja ia mengejek separuh hati aku berkata pada diri sendiri.

Pertemuan ke-limabelas

Suhu hari ini diperkirakan yang paling tinggi selama musim panas. Walau cuaca terik aku berlari cepat menerobos garis pantai menuju kedai. Semalam Maura berpesan untuk menitipkan kedainya padaku sesuai dugaan sudah ada tiga orang menunggu di depan kedai. Beberapa kucing langsung masuk sesaat pintu terbuka begitupun dengan pengunjung tampak lebih ramai dari kemarin. Sedikit kewalahan aku bolak-balik dari dapur ke ruang depan mencatat pesanan sembari memasak.

Dua jam berlalu kedai tak kunjung lengang. Keringat membasahi peluh aku bertekad akan menyelesaikan pekerjaan ini sampai waktunya selesai.

“Pengelolanya pergi meminta perpanjangan sewa kedai sungguh disayangkan bila ditutup padahal tempatnya nyaman dan enak.”

Terdengar obrolan dari pengunjung saat aku mengantar makanan ke meja luar.

“Tolong bilang pada pengelolanya jangan ditutup hanya kedai ini tempat singgah kami.” Kali ini pengunjung yang aku antar makanannya berkata.

Aku balas kikuk. “i, iya, nanti saya sampaikan.”

Dari kaca jendela dapur tempatku berdiri melihat anak-anak kecil bermain istana pasir, orang-orang dewasa berenang dan lansia duduk bersantai atau berbincang tetap pikiranku tertuju pada hal apa yang bisa aku bantu untuk mempertahankan kedai Maura ini.

Pertemuan ke-enambelas

Setengah hari Maura berada di kedai dan kembali menemui pemiliknya. Tak ada percakapan hangat yang biasa kami obrolkan hanya mengedarkan pandangan ke arah masing-masing. Kulihat Maura yang kesusahan meraih kotak kecil di atas rak perabotan dapur.

“Bagaimana perkembangannya?” aku bertanya. Sedikit berjinjit untuk membantu Maura mengambil kotak.

“Kemarin banyak pengunjung yang meminta kedai jangan ditutup.”

Maura menghembuskan napas tenang. “Aku tidak yakin. Bila akhirnya harus ditutup bukan hendak dariku terlalu banyak kenangan ada disini. Kau jelas bisa lihat itu, semoga dengan sedikit usaha akan mendapatkan hasil yang baik.”

Sekali lagi, ia menghembuskan napas secerca senyuman melengkung di sudut bibirnya.

“Maaf telah merepotkanmu titip kedai selagi aku pergi.”

Aku balas mengangguk tak luput menatap kepergian punggungnya yang semakin menjauh.

Ada yang berbeda pada Maura, sepasang matanya menunjukkan kesedihan bukan berhubungan dengan masalah kedai tetapi hal lain yang ditutup rapat, buatku tidak bisa menerka-nerka apalagi aku orang baru di kehidupannya yang ditugaskan untuk membantu dan menjaga kedai.

“kenapa aku penasaran? seperti bukan diriku yang biasanya saja.” gumamku. Dua ekor kucing masuk bulu lembutnya menyentuh tangan.

Sungguh manis pasti mereka penghilang kepenatan Maura selama sendirian di kedai.

Sopan tidak bila aku mencari tau ‘hal lain’ yang dimaksud kemudian aku akan dijuluki stalker dan endingnya kami bermusuhan. Eh, jadi dramatis. Mungkin itulah yang disebut  ketertarikan tetapi kepada siapa? Maura?

Kini kucing-kucing tadi pindah berguling dipojokan teras menyambut kedatangan pengunjung.

Pertemuan ke-tujuhbelas

“Kau beralih hobi ke selancar?” Maura bertanya ketika aku masuk ke kedai menaruh papan selancar di atas meja. Tampaknya kedua mata Maura terlihat bengkak.

Aku tidak menjawab lebih tertarik bertanya keadaannya. “Apa terjadi sesuatu padamu?”

Gantian ia yang tidak menjawab menyibukkan diri dengan memasak. Bila kesederhaan dapat merubah kebahagiaan mungkin manusia di muka bumi akan damai. Sama seperti melihat wajah damai Maura. Contoh perempuan mandiri dengan pandangan modern. Terik matahari pagi menerpanya, diam-diam aku memperhatikan. Ia menutup silau cahaya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menata makanan ke piring. Jujur aku cukup terkesima.

“Katanya kalau melihat lebih dari satu menit akan bikin jatuh cinta, kuharap kau tidak percaya pada ungkapan itu.”

Maura tertawa kecil seraya membawa nampan ke meja pengunjung.

Terbesit rasa malu di wajahku secara kontan memerah. Tapi, tau darimana lebih dari satu menit menurutku hanya beberapa detik. Gawat aku lupa menanyakan kembali keadaannya.

Pertemuan ke-delapanbelas

Deretan bibir pantai dipenuhi wisatawan yang berjemur. Sekarang jam satu siang waktu untuk menyelam ke laut, aku siap membawa perlengkapan serta alat oksigen. Membawa tubuh untuk melihat dasar laut tanpa berpikir dua kali aku langsung menceburkan diri. Dengan cari ini definisi kebahagiaanku, tiap orang memiliki caranya bukan?

Aku berdecak kagum. Bagaimana bisa terumbun karang, tumbuhan dan makhluk laut hidup selaras tanpa perlu takut dirusak oleh tangan-tangan jahil manusia. Itu artinya dalam pandangan hidup pasti ada yang ingin mengusik tetapi kamu masih bersyukur atas kehidupan yang dimiliki karena hidup untuk dilalui sendiri bukan orang lain.

Entah sudah kedalaman berapa meter posisiku berada dan suhu air laut juga semakin tinggi, aku dapat merasakan dari pori-poriku. Pasti cuaca menyentuh angka lebih tigapuluh tiga derajat Selsius.

Setelah puas menyelam aku kembali naik ke atas permukaan mendapati Maura yang berteriak memanggil. “Cepat masuk ada yang mau aku bicarakan.”

Kami berdua duduk bersebrangan, menunduk. Tidak ada di antara kami yang membuka percakapan. Gadis di depanku ini menghela napas dan menghembuskannya panjang-panjang.

“Maura,”

“Begini....”

Satu kata menyeruak keluar dari mulut masing-masing. Oh, ternyata kami bebarengan. Cepat-cepat Maura membuang muka sementara aku menyesap juice dan kembali menunduk.

“Kau duluan saja, um... katanya tadi ada yang mau dibicarakan.”

Maura tersenyum lemah mendengar ucapanku. “Begini, mulai besok kedai ini ditutup pemiliknya akan menjual. Menurutmu bagaimana?” katanya putus asa.

Pertemuan ke-sembilanbelas

“Menurutmu bagaimana?”

Pikiranku terpaku pada pertanyaan Maura kemarin, menatap fokus ke bulir-bulir air yang jatuh membasahi pasir pantai. Hujan pertama di musim panas.

“Kau masih berada disini? Pulanglah, lebih baik kau siapkan barang-barang untuk kepindahan besok. Jangan mengharapkan sesuatu yang sudah terjadi.”

“Maura....”

Aku berjeda menahan napas meneliti sejenak raut wajahnya yang semakin muram karena kesedihan. “Apa keadaanmu baik? Kau tampak berbeda akhir-akhir ini, ingin bercerita?”

Maura mengerjap. Tidak menyangka aku akan menanyakan keadaannya lagi setelah kemarin ia mengisyaratkan ke-tidak-sukaan- kemudian berbalik seolah-olah menjaga jarak terhadapku.

“Aku sedang bertanya Maura, memang kita belum lama berteman tetapi aku sungguh khawatir,”

“Pertanyaan terakhir. Apa keadaanmu baik-baik saja?” tanyaku meyakinkan. Rasa frustasi menjalar. Frustasi melihat wajah sedih Maura. Frustasi karena tidak bisa berbuat apapun hanya melihat masalah yang dialami Maura. Dan frustasi karena Maura perlahan menutup diri dariku.

Maura mengigit bibir dengan susah payah menormalkan emosi. Air mata mulai membayang di matanya. “Sudah aku katakan tadi, jangan mengharapkan sesuatu yang terjadi. Anggap saja keadaanku dalam baik hanya sedikit kecemburuan dengan hidupmu.”

Namun aku mengernyit bingung. “Maksudmu?”

“Pemilik kedai ini punya ayahku beliau sengaja menjualnya agar aku tidak bisa menolak sekolah di jurusan yang pilihnya. Aku mau hidup sepertimu dengan tanggung jawab dan rasa bahagia atas apa yang dijalankan. Begitulah sederhana dalam kebahagiaan.”

Kata-kata yang diucapkan dengan tajam dan jelas itu menghujam jantung tanpa berkedip menatapnya.

Pertemuan ke-duapuluh

“Maura, kaukah itu?” seruku. Bayangan Maura diterpa pantulan sunrise.

“Oh, tak kusangka kau datang,” Maura balas berseru sambil menjinjing sepatunya berjalan mendekat. 

“Pemandangannya bagus sekali dengan aroma laut yang menenangkan.”

“Kuharap kita punya waktu pertemuan yang lebih lama. Maaf sudah buatmu khawatir.”

Aku menggeleng. “Tidak masalah. Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu.”

“Untuk?”

Senyumku mengembang. Meski sulit harus pindah dan meninggalkan Amerika serta teman baruku yang selama duapuluh hari selaluku lihat, aku mendapati semua hal yang tidak pernah aku lalui sebelumnya. Menghabiskan waktu untuk memiliki pandangan dari sisi berbeda. Itulah yang dirasakan olehku.

“Atas waktu bersama yang berkesan dan menyenangkan.”


***

Waktu memang berlalu begitu cepat hanya kenangan-kenangannya saja yang tertinggal. Namun, aku tau bahwa waktu akan berpihak terhadap takdir. Dan kali ini aku yakin akan ada saatnya untuk kita bertemu lagi sejak satu tahun. Suara co-pilot memberitahukan pesawat sudah mendarat lancar bersamaan itu pula aku melepas sabuk pengaman di kursi. Dari luar jendela tatapanku mengamati pegawai maskapai yang sibuk menggeluarkan barang-barang dari bagasi.

Salah-satu makna pencarian diri yang bisa dipelajari; keinginan dan impian dalam menjalankan hidup bukan berarti suka atau tidak suka tergantung bagaimana kita memandang kebahagiaan dengan cara sederhana, itu tandanya kita akan baik-baik saja. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bertemu musim lainnya di Berbagai Rasa (Winter)


Mawar merah di antara banyaknya lavender. Aku mengalihkan tatapan ke arah mawar merah itu. Pemandangan yang menghiasi pekarangan di sekitar pinggiran sungai. Jalanan sudah di penuhi pohon-pohon yang bunganya telah bermekaran dibasahi air hujan. Hujan di pertengahan musim semi tahun ini.

Duduk sendiri di keramaian seperti sekarang merupakan kebiasaan lamaku. Aku terkekeh saat ada yang mengatakan bahwa aku termasuk bagian dari orang kesepian. Untuk alasan yang logis aku juga meng-iya-kan. Bukan, lebih tepatnya aku tipe mandiri. Prinsipnya karena tidak ada yang paling setia dari diri kita sendiri.

“Carla!” Ah, dia lagi. Suara pria muda itu membuatku sebal.

“Kamu ke mana saja?”

Sungguh dia semakin menyebalkan dan keras kepala. Aku menutup telinga sambil berjalan mempercepat langkah berusaha tidak memperdulikannya. Tentu saja aku ingin bersikap seperti orang normal.

Dia terlihat kebingungan. “Hei! Bukannya kamu melihatku?”

“Begini, jadi aku ingin berteman.” Lanjutnya.

“Aku....” Tanpa melanjutkan perkataanku, aku tertunduk lesu. Dan sepertinya orang-orang mulai menatapku aneh.

“Ayo kita pergi. Sudah mulai hujan lagi.” Ucapnya penuh harap. Kini dia ikutan tertunduk disampingku. “Semenjak aku datang kamu selalu dibilang aneh. Aku tau itu yang buatmu dalam kesulitan. Maaf Carla, tapi,”

Aku menoleh sesaat, mungkinkah harus mempercayainya? dan mencoba bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Dia mengerutkan kening meminta jawabanku. “Bagaimana sudah percaya?”

Rasanya sudah sejak lama aku tidak berinteraksi bersama makhluk lain untuk kasus yang berbeda pula. Makhluk disampingku ini tampak masih muda mungkin berusia 21 tahun dengan luka di pelipis kanan. Tidak tau kapan pastinya aku bisa melihat makhluk lain yang jujur saja itu buat diriku dipandang aneh.

Kini hujan telah deras membuat bunga blossom perlahan jatuh di tempatku berteduh wanginya menyegarkan pikiran kembali.

“Aku dengar musim semi di NYC tahun ini akan lama.”
Aku berjingkat kebelakang saking kagetnya. Nyaris lupa dia masih mengikutiku, membuyarkan lamunan saja. Tentu dia melihat ekspresi kagetku tadi dan tertawa senang. --Sekali lagi- aku tidak peduli mengalihkan pandangan ke bunga blossom yang berjatuhan.

“Biasanya orang menikmati hujan dengan coklat hangat. Sudah lama aku tidak meminumnya.” Suara dia terdengar seperti rengekan.

“Kamu harus bawa aku kesana!” Kali ini suara dia bernada memerintah.

Ini benar-benar salah. Kenapa aku yang harus menjalin hubungan dengannya seperti tidak ada manusia lain yang perlu diganggu.

Untuk apa juga dia mau kesana, memegang cangkir saja tidak bisa dan mau minum coklat hangat? Yang benar saja. Aku terkekeh sendiri. Lagian tujuan awalku tadi ingin ke perpustakaan kota. Dan --sekali lagi- aku tidak peduli meninggalkannya yang masih berdiri di depan kafe minuman.

***

“Carla,” panggilnya menuju ruang duduk yang terdapat di sudut perpustakaan. “Kamu meninggalkanku lagi? Kita sudah berteman setidaknya harus pergi bersama.”

Dia menyandarkan punggung ke sandaran sofa dan mendongakkan wajahnya ke arah jendela. Aku mengikuti arah pandangannya. Langit kota New York cerah kembali. Cuaca musim semi selalu tidak terduga sebentar hujan dan cerah. Dia memejamkan mata seperti berpikir untuk mengatakan sesuatu dengan ekspresi serius.

Aku mengigit bibir sejenak pura-pura fokus membaca. Ada perasaan khawatir.

“Apakah kamu tidak penasaran? Mengenai kehidupanku?”

Ekspresinya yang serius tadi berubah imut sementara kedua tangannya di atas meja menopang dagu. Benar dugaanku, kenapa aku harus khawatir?

Aku meliriknya. “Tidak minat.”

“Aku tidak percaya,” sahutnya. “Kenapa?” kataku cepat tidak mau memperpanjang obrolan.

Dia mengeluarkan suara yang terdengar seperti dengusan dan tawa pendek. “Tidak apa-apa, aku hanya benci kesendirian.”

Aku mengerjap. Apakah aku terlalu kasar padanya atau perasaan dia yang sensitif.

“Baiklah kalau begitu.” gumamnya. Dia tidak berbicara lebih banyak lagi dan hendak pergi pelan menjauh dari pandangan.

Seperti biasa tidak ada yang bertahan bersamaku bahkan ‘makhluk lain’ sekalipun.

Aku sedang duduk melamun di antara para pengunjung sesekali mengamati buku-buku di depanku. Suasana hati dan pikiranku saat ini tidak sejalan. Yah, aku tau penyebabnya si-tuan hantu. Tiba-tiba ponselku bergetar panggilan dari Els –adikku-

“Carl, mommy, hilang. Aku pulang tiga menit lalu ternyata rumah sudah kosong.”

“Sudah menghubungi panggilan darurat?”

“Sudah. Mereka sekarang mencari mom dengan bantuan polisi juga.”

Dengan panik aku memutuskan obrolan Els dan mencari taksi bergegas menuju ke rumah. Pandanganku terhenti di gerbang perumahan yang berada di simpang lampu merah. Mungkin mommy disana lagi.

Crek. Perlahan aku membuka pintu rumah kosong bercat hijau ini, dari kejahuan aku bisa melihat mommy sedang duduk disamping lemari mengobrol bersama tiga makhluk lain. Mungkin bagi manusia biasa mommy terlihat seperti orang gila yang berbicara sendiri. Aku mencoba mendengar obrolan mereka di balik pintu.

“Biarkan aku berada disini sebentar. Aku mohon.”

Suara permintaan mommy kepada makhluk itu membuatku makin penasaran.

“Aku hanya ingin membantu kalian. Kasus kecelakaan itu juga menimpa keluargaku dan aku masih merasa bersalah.”

Aku diam mematung mencoba mencerna perkataan mommy. Kedua kakiku perlahan lemas teringat akan daddy yang meninggal karena kecelakaan. Mobil yang kami tumpangi menabrak pembatas jalan tol mengakibatkan satu mobil keluarga lainnya meninggal.

“Mom aku ingat semuanya,”

Mommy terkejut mendengar ucapanku. Belum sempat aku melanjutkan ucapan Els dan petugas polisi datang.

“Mom baik saja? Carl, kenapa tidak langsung menghubungiku mommy ada disini.”

“Maaf Els. Tolong ajak mommy pulang duluan biar aku menyusul.”

Selepas Els mengajak mommy pulang tatapan mata mommy semakin membenci dirinya. Aku yang sejak tadi masih di dalam rumah kosong ini bingung untuk mengatakan semua ingatanku nanti.

“Carla.”

Hantu pria muda itu memanggilku lagi. Kali ini aku sudah bisa bersikap ramah padanya.

“Sungguh aku hanya ingin berteman denganmu,”

“Maaf. Memang aku butuh bantuanmu untuk sebagai pendegar.”

Mereka berdua kini berjalan di trotoar menuju kafe minuman tadi. “Memang musim semi sangat cocok minum coklat hangat.” Sudut bibirku sedikit melengkung.

“Iya! Terima kasih Carla.”

“Apa alasanmu berteman denganku selain sebagai pendengar?”

“Tidak ada.”

“Tapi aku bukan orang yang baik semuanya tidak akan bertahan lama denganku.”

Dia menjawab dengan senyuman ringan bahkan dia sudah berada disebrang jalan, otomatis aku harus menyebrang menunggu lampu lalu lintas berwarna merah.

“Harusnya kita sepakat dulu mau jalan yang mana.” Tepat di depan makhluk lain itu aku memprotes.

“Sengaja. Katamu tadi orang tidak akan bertahan berteman denganmu? Menurutku itu hanya perasaanmu saja yang selalu negatif.”

“Tidak, mereka terkadang menjauh dariku.”

“Aku pernah menyesal bersikap tidak butuh orang lain tetapi aku juga bangga bersikap mandiri. Karena sikap itulah membuat diriku egois tanpa berpikir positif.”

Aku menatap langsung sorot mata penyesalan. “Kenapa sekarang aku jadi iri padamu ya?”

Dan lagi dia tersenyum ringan. “Aku yang harusnya iri padamu Carla. Aku sangat ingin punya kesempatan lagi untuk bilang jujur pada semua yang menyayangiku,”

“Sikap egoisku selalu gengsi membalas kebaikan mereka bahkan menunjukkan rasa penyayang pun sulit. Aku tidak mau kamu sepertiku juga. Selagi masih punya kesempatan balas kebaikan orang tanpa orang tersebut melakukan kebaikan dahulu.”
Dia berhenti berkata-kata. Pandangan pria muda beralih pada seorang nenek yang duduk diluar kafe menunggu cucunya selesai bekerja.

“Akhirnya sampai! Bau coklat selalu menghangatkan bukan.”

Aku mengangguk bergegas memasuki kafe.

“Ada alasan selain mencium bau coklat. Aku bisa merasa menjadi cucu dari nenek disana melihatnya saja membuat diriku dikelilingi orang yang menyayangi.” Ucapnya kepadaku. Sedetik kemudian tercipta keheningan di antara kami.

“Dev, Devran. Maaf aku baru ingat sekarang mungkin aku terlalu khawatir pada mommy. Aku dan Els berjanji akan menjaganya, kami sangat rindu padamu dan juga dad.” Suaraku bergetar menahan tangis.

Devran. Saudara kembarku—makhluk lain—yang mengingatkan kepada kenangan keluarga yang berserakan seperti puzzle.

Devran tersenyum lebar. “Aku tau kamu pasti akan ingat kembali Carl,” jedanya untuk menyeringai, “Kami bangga pada kalian. Mommy bersikap begitu karena terlalu sayang kalian. Carla sepertinya kamu sepanjang jalan kesini berbicara sendiri. Tidak mau bersikap normal lagi?” Tunjuk Devran keseliling. Benar semua orang telah menatap aneh.

“Biarkan saja.”

Aku segera menghampiri pelayan kafe menunjuk menu. “Saya mau pesan dua cangkir hot chocolate.” Gumamku dan dibelakang Devran mengikuti langkahku.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose