Me of Colorful


Sedikit keluar dari dana liburan tidak membuat saya mundur meski berulang kali memikirkan bagaimana kelangsungan tabungan di tempat kerja baru dengan pengaturan keuangan, "bersenanglah" kata diri sudah menginginkan self rewards sejak awal tahun. Halaman dimana jadi bekal saya mulai menulis perjalanan di tahun 2024 satu tempat destinasi wisatawan dunia paling berkesan get to good experience. Beberapa menit sebelum mendarat terpampang jelas di depan mata laut lepas nan biru bersama latar patung megah Burung Garuda kawasan Kuta Selatan sebelah baratnya tampak aktivitas berselancar keduanya jadi pemandangan berbeda di mata terbesit syukur bisa berada di Pulau Dewata -Say Hai Bali- sebut itu berlebihan.

Bunga merah muda bermekaran sepanjang ruas Jalan Tol Bali Mandara bertepatan di Hari Raya Galungan dan Kuningan dan saya baru menyadarinya, cuaca cerah sangat mendukung perjalanan.

Berwisata di kalangan antarnegara dengan keramah-tamahannya tidak ada rasa cemas naik transportasi umum bahkan berjalan kaki seperti warga lokal. Setiap tempat memiliki sudut cerita sendiri meski hampir satu jam menahan lapar karena sulit menemukan makanan friendly nyatanya Ubud akan saya jadikan to list. Duduk diam mengamati ornamen bangunan berpahat lahir dari seniman Bali mereka bisa mengekspresikan karya serta alam tanpa batasan mengenai kehidupan rakyat dalam bentuk seni. Banyak lukisan berumur ratusan tahun masih terjaga relate di masa sekarang. Berpindah ke ujung selatan bersama pengunjung taman budaya antusias menonton penari menyemburkan api di bawah langit yang bergradasi indah detik berikutnya saya terpana. Penjor-penjor dipasang di jalanan suasana kian menyatu oleh aroma wewangian dari dupa dan sesajen sungguh nyaman ditengah masyarakat bertoleransi.

Lima hari waktu sebentar tidak semua dijelajahi walau bisa mendengar pengalaman cerita dari orang lain tetapi cerita sendiri harus berlanjut. Semoga.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Faelerie "Langkah-Langkah" dalam ARTJOG 2023

Sejak pernyataan tulisan mengenai resolusi traveling sedikit membelokkan pikiran saya kenyataannya dua hari singgah di Jogja ikon daerah istimewa benar adanya tempat festival, seni dan budaya ada di segala penjuru yang tidak ditemui di kota lain seperti rangkaian kata-kata membentuk kalimat. Bulan agustus jadi my first experience mengunjungi pameran karya bertepatan ARTJOG Tahun 2023 bagaimana antusias saya beli tiket seminggu sebelum berangkat dan tidak tau bakal sempat singgah atau merelakan tiketnya. Menuju pukul lima kurang waktu sore menjelang malam disambut suasana tenang dan perasaan khidmat buat saya penyuka filosofi tidak dengan kopi sok ngerti seni. Oh tentu, durasi dua jam kurang cukup untuk melangkah kecil nelusuri karya-karya yang dipamerkan di gedung 3 lantai memiliki sekat-sekat ruang karya sendiri. Pandangan ke depan membawa kejutan keragaman media seni melalui karya Faelerie pada rajutan benang menggambarkan kaki "makhluk" yang berarti tahapan berkesinambungan di jiwa.

Mengutip puisi berjudul "Laut" oleh Sanenton Yuliman (1967) dalam pameran karya Faelerie:

Demikian pun jiwa kita adalah laut yang tak pernah tidur
Dan antara laut di dalam diri kita dan laut disekitar kita tak ada karang pemisah ataupun pantai
Keduanya saling menembus, saling merangkum, keduanya membentang

Sunyi, tidak banyak percakapan dalam gedung Jogja Nasional Museum pengunjung berinteraksi lewat karya berdasarkan pengalaman dan kejadian tanpa intimidasi. Langkah penasaran pada ruangan bersuara pekikan diartikan kebebasan, ruangan beraroma dupa diartikan sakral sampai dimana berhenti tertegun melihat satu karya sederhana ada satu bohlam di tengah ruangan di dindingnya siluet aktifitas new normal dengan media kertas khusus di cat tipis berbayang. Setelah melangkah ke pintu keluar saya menyadari perasaan seniman ikut andil dalam mengubah makna kebisingan hidup bagi penikmatnya setingkat nasi angkringan di malioboro layak berbagi rasa.

Kreatifitas bukan jadi masalah, demikian untuk menuju tempat baru perlu jangkauan lebih jauh festival, seni dan budaya yang akan disinggahi.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Waktu penerbangan tidak sampai satu jam saya yang duduk di seat dekat jendela bergumam kapan suara pemberitahuan pilot untuk landing terdengar meski tahu pandangan masih tertutup awan. Hampir dua tahun tidak pergi berlibur garis bawah bukan disebut liburan tetapi berkunjung tipis-tipis ke Pulau Bangka. Menuju Kabupaten Bangka tepatnya mengarah ke pesisir pantai Sungailiat disambut dengan kenyamanan dan gerimis, saya merasakan aroma asin air laut menusuk hidung. 

Siang hari pantai sedikit surut tetapi udara sejuk tidak membiarkan pengunjung berdiam. Berjalan kecil sekitaran resort ada banyak aktivitas dilakukan, anak-anak berenang, penduduk memancing, barbeque, atau duduk saja sudah tergambar jelas senang di wajah. 

Jarak antar pantai ke pantai lain tidak jauh melewati jalan lurus walau pantainya memiliki ciri sama yang bebatuan perbedaan ada pada jenis pepohonan. Batu pantai sebagai pemecah ombak tersusun dibeberapa tempat seolah itu alami untuk ukuran besar batunya membentuk pulau kecil. Bila pantai di daerah lain terkenal pura atau terumbu karang di sini dijumpai ketenangan ombak selaras dengan kapal penambang timah berlalu-lalang. Indra pendengar langsung dimanjakan seperti tontonan relaxing sound di laman platform. 

Tidak mau terlewatkan pandangan, capture banyak gambar menelusuri setiap sudut pantai lupa kapan terakhir kali bertemu hamparan laut hanya rasa tenang yang dirindukan sama seperti tokoh Biru Laut dalam novel Leila S Chudori ia bisa menarik diri kembali ke sana. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Yogyakarta tidak pernah terganti dalam list resolusi saya di poin traveling, daerah istimewa yang mempertahankan unsur kesultanan dan warisan budaya berhasil buat saya menaruh hati dibanding harus wisata jauh ke Luar Negeri. Sebelum merealisasikan resolusi tersebut lebih dahulu saya browsing seluk-beluk wisata Jogja beruntung saya menemukan paket lengkap di blog RedDoorz mulai dari destinasi tempat, tips-trik, kuliner bahkan akomodasi penginapan pun ada untuk saya catat rapi di note. 

Alasan yang mungkin terdengar cukup aneh, saya nanti berencana tidak pilih penerbangan langsung Palembang-Yogyakarta singgah ke Jakarta saja naik transportasi kereta rute Jakarta-Jogja tantangan belajar jadi wisatawan toh pemandangannya asri nan segar. Selain itu, Jogja menawarkan banyak pilihan juga bagi manusia penyuka event maupun festival seni seperti saya begitu spesialnya Jogja di mata saya, segudang perjalanan di Jogja memang sangat menarik. List-to-do?

Kenal Situs Sejarah Lewat Candi


Kemegahan luar biasa menjadikan candi-candi di Jogja dalam salah satu warisan budaya oleh UNESCO. Sebagai lulusan teknik yang berkecimpung di dunia infrastruktur timbul rasa penasaran saya pada pembangunan para leluhur kita di zaman itu amat menyenangkan bisa kenal hal baru seiring waktu kawasan candi dipakai pula untuk tempat pegelaran musik contohnya Prambanan Jazz.

Menonton Pentas Seni dan Budaya


Ini nih, hal wajib yang dilakukan wisatawan tak terkecuali saya sendiri maklum di daerah tempat tinggal saya jarang ada pentas seni dan budaya seperti kebanyakan Daerah Jogja. Sisi positif yang dapat saya ambil keanekaragaman dari masyarakatnya saling toleransi. Bukan hanya itu, sepanjang tahun di Jogja digelar book fair, festival musisi indie, festival gamelan Jogja dan kegiatan-kegiatan khusus yang diselenggarakan oleh Keraton. Tidak ada kata bosan bagi saya menikmati hiburan atraktif dijamin ini murah apalagi meriah.

Alam Hijau di Dataran Tinggi


Saya patut tersenyum lebar karena tidak salah memilih Jogja sebagai daftar resolusi, guys wisata alamnya jangan sampai dilewatkan bayangkan disuguhi jejeran pepohonan hijau dengan latar pegunungan dan garis pantai plus udara segar, siapa yang nolak! Cocok untuk saya yang penat dari rutinitas monoton pingin seminggu tanpa gadget.

Cita Rasa Legendaris


Menyebutkan kuliner Jogja pasti teringat si gudeg tak lengkap berwisata tanpa mencicipi satu jenis makanan khasnya. Jujur, rasa gudeg buat saya penasaran meski saya bukan pencinta makanan manis seperti umumnya masakan daerah Jawa. Bagian serunya saat penjual ngeracik yang resepnya ada turun-temurun campuran berbagai hidangan lauk, sayuran, sambal dan bumbu rempah disajikan di daun pisang komposisi rasa gurih.

Tempat Santai yang Cozy


Ikon tempat nongkrong populer kalangan anak muda selain Jakarta dan Bandung yah, di Jogja. Saya bukan termasuk bagian milenial yang suka nongkrong-nongkrong cantik memesan kopi yang harganya bisa dipakai jajan tiga hari. Tongkrongan di Jogja ramah di kantong fokusnya di interior mulai dari modern sampai nuansa Indo-Holand. Bila mau solo trip saya akan bersantai naik andong nikmati jalanan Malioboro atau duduk di kafe seperti warga lokal. Tidak lupa saya cari tau apa tips-triknya di blog RedDoorz terutama yang belum pernah pergi sendirian seperti saya.

Bagaimana akomodasi penginapan?

pemesanan RedDoorz di sini

  • Kebetulan banyak penginapan di Jogja bekerjasama dengan RedDoorz ada ragam penginapan yang bisa kita pilih sesuai rekomendasi atau properti yang disarankan harganya bersahabat sudah termasuk pajak ditambah potongan promo pula dengan 6 guarantee service dari RedDoorz yaitu linen bersih, kamar mandi bersih, perlengkapan mandi, televisi, air mineral dan WI-FI gratis. Nah, traveling ke Jogja nanti saya tidak ragu lagi cari tempat penginapannya.
  • Nilai rata-rata ulasannya 4,6/5 disertai label Great Value karena pengunjung pasti inginkan budget setara backpacker sekaligus fasilitas memadai layaknya hotel berbintang. Ukuran kamar bisa disesuaikan kebutuhan lengkap oleh fasilitas penunjang juga seperti kolam renang, area parkir, ruang tamu dan dapur bersama.
  • Selain garansi pelayanan, RedDoorz sangat pengertian bagi wisatawan dong lokasi-lokasinya disebar tidak jauh dari pusat wisata dan belanja tentu saja saya akan pilih penginapan yang dapat dijangkau berbagai destinasi tujuan misalnya RedDoorz Plus near Tugu Jogja 2 hanya 800 meter dari Tugu Yogyakarta.

Lalu, rencana pencapaian tahun 2019 saya? Sederhana semua tentang perjalanan hidup harus lebih disyukuri ada harapan untuk dijadikan resolusi. Kalau dulu saya tidak pernah sama sekali nyusun daftar resolusi untuk tahun ini saya akan menyusunnya, mulai dari resolusi traveling ini. Berdoa semoga terwujud. Aamiin.

***

Dibuat untuk mengikuti Blog Kompetisi RedDoorz
dengan tema "Resolusi Traveling 2019"
Sumber Gambar: blog.reddoorz.com
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Konsep melancong 2-3 hari bagi yang berjiwa petualang tak ada masalah lelahnya jadi pengalaman manis, seru saya seperti traveller sejati padahal seharian besok harus melek mata. Menginjak kaki di Pulau Jawa bagian Timur yang belum sempat terpikirkan hanya kepingin ke Jogja yang terkenal nuansa sultannya itu. Lagipula kesempatan tidak datang dua kali saya pun langsung berangkat melupakan sejenak bayangan Jogja tadi dengan sunrise Gunung Bromo. Matahari belum sempurna naik bersembunyi diantara tiga susunan gunung menambah dinginnya suhu, berulang kali saya menggosokkan telapak tangan.

Menghitung detik sampai jarum pendek di angka lima semua sudah duduk beralaskan karpet kecil sewaan, berdiri di pinggir pembatas, peralatan kamera dan menunggu matahari naik dengan harapan bisa menghangatkan suhu karena makan semangkuk kuah bakso bagi tiga belum cukup hangat apalagi kenyang.

Oh, begini yang dilakukan manusia pengejar sunrise rela tidak tidur semalaman. Dalam hati saya berterimakasih diberi nikmat bisa lihat langsung suasana hangat meski di tempat dingin, langit menunjukkan sedikit warna kuning yang saya yakin ditutupi embun. Dari bawah sana konstruksi-konstruksi Tuhan tampak indah kawah aktifnya juga baik seperti doa banyak orang. Satu tempat untuk melebarkan senyuman pada kawasan yang memiliki dua sisi yang berbeda tetapi sayuran bisa tumbuh subur. Saya tidak perlu jabarkan panjang-panjang traveling to Bromo. Ketik di kotak pencarian internet pasti ada tentu saja tidak mengecewakan semua punya kesan baik.

Cerita setelah pulang adalah hadiahnya; Sepuluh derajat selsius.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Karya kolaborasi Brilliant Yotenega dan Wisnu Suryaning Adji. Salinem dalam Rahasia Salinem (2018) adalah seorang abdi dalem, perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk mengurusi kebutuhan keluarga keraton. Sepanjang hidup Salinem yang merentang hampir satu abad lamanya, sejak 1923 hingga 2013, latar ketika cerita sebenarnya dimulai, ia bergelut dengan serangkaian peristiwa kelam. Namun, barulah saat menjelang kematiannya, misteri hidup Salinem sesungguhnya terkuak. Misteri yang tidak hanya menggoyahkan keutuhan sebuah keluarga keturunan bangsawan, tapi juga mengungkap peran penting seorang jelata sebagai baut kecil yang mempertahankan keutuhannya selama hampir 100 tahun.

Selengkapnya baca di Storial

***

Dari sinopsis yang tidak muluk-muluk tetap bisa membuat rasa penasaran pembaca. Beranda twitter kebetulan dipenuhi banyak ulasan positif novel ini jadilah saya menyimpan Rahasia Salinem di rak bacaan akun Storial–wadah online penulis dan pembaca milik founder Anak Negeri. Tokoh utama disebutkan dalam sinopsis memiliki rahasia yang belum sempat dibagikan mungkin di sini perjalanan panjang dari kenangan-kenangan yang terlupa. Bukan perihal rahasia ala detektif atau komplotan mafia ini bisa disebut rahasia berupa harta karun yang tidak bernominal. Di permulaan bab saya sudah kagum dengan plot rapi yang disajikan penulis baru pertama kali bagi saya menemukan cerita yang benang merahnya hadir di awal.

Lelaki bernama Tyo cucu dari Salinem dan keluarga besar berkumpul di Solo menghadiri acara pemakaman semua berselimut kesedihan ditinggal pergi orang tersayang selamanya, tidak ada sebutan khusus untuk penyelamat keluarga sosoknya selalu jadi panutan mereka; Salinem. Benar saja kisah memang tak pernah usai.

Setelah pemakaman Mbah Nem keluarga besar langsung berdiskusi bagaimana memasukkan nama Salinem di pohon silsilah mereka tanpa Tyo duga ada fakta tersembunyi yang baru ia tau, Salinem bukan nenek kandungnya. Ada banyak pertentangan yang akan di ambil keluarga besar Tyo karena pengorbanan Salinem terhadap keluarga ini kelak tidak boleh dihilangkan dalam ingatan anak-cucu mereka. Lima detik saya terdiam seperti becermin di keluarga besar saya yang memang dari kecil dikenalkan pada silsilah ketika berkunjung ke rumah sanak saudara itu sebabnya ketika kakek-nenek kami meninggal penurus keluarga harus tau meski cuma dari fotonya mungkin pula terdapat silsilah lain sebelum buyut-buyut yang sudah lama hilang. Darisinilah Tyo sadar ia belum mengenal Mbah Nem lebih jauh.

Alur maju-mundur dihadirkan penulis di cerita. Berlatarkan tempat Sukoharjo tahun 1925 Salinem kecil menetap lama di sana ayahnya bekerja sebagai kusir delman Kawedanan. Nasib Salinem terus pindah-pindah membuatnya mengerti sebuah kata perpisahan. Ada banyak latar selain Sukoharjo, melalui Kota Solo dan keluarga keraton saya larut terenyuh akan Mbah Nem menyikapi sesuatu permasalahan dengan sederhana "Jalani saja..." katanya. Konflik diperkuat sedikit singgungan perang Jepang, penjajahan Belanda, masa setelah kemerdekaan Indonesia, dan pembantaian PKI bagai tali terikat erat entah bagaimana dibuat cukup natural. Pemilihan dua sudut pandang juga tepat, Tyo bersama keluarga besar menyusun kepingan cerita Mbah Nem yang tergerus waktu dan Salinem menyambungkannya melalui jawaban kisah masa lalu, takdir membawa Tyo berjumpa Eyang Parjo barang satupun kenangan yang beliau lupakan bila Tyo menyebutkan Salinem. Manusia tentu pernah muda pertemuan keduanya sangat manis bukan seberapa seringnya bertemu tetapi seberapa setianya untuk menunggu, nama Suparjo selalu Salinem lantunkan dalam doa, mereka sejak lama ditakdirkan meski Salinem tidak percaya takdir. Pengorbanan untuk cinta yang tak biasa meluluh-lantak harapan. Manusia juga berhak atas pilihan 90 tahun sudah Mbah Nem menempati janjinya kepada sahabat terkasih Gusti Soeratmi dan Gusti Kartinah untuk bersama keluarga ini memilih tujuan hidup yang berbeda, "Buatku, mereka anak-anakku."

Hampir seminggu sejak saya selesai membaca Rahasia Salinem ajaibnya kehangatan itu masih terasa sampai saya menulis ini, saraf-saraf di otak pun rileks ada masa dimana saya merindukan kenangan lama mengutuk diri untuk mengulang waktu ternyata hidup soal perpindahan-perpindahan akan selalu berada di titik baru biarkan saja kenangan datang bersama waktu dan terpatri ditempatnya sendiri. Sebagaimana Mbah Nem bilang Tuhan punya rencana dan Tyo mengerti bahwa kenangan ada menjadi bagian besar cerita kehidupan di keluarga ini melalui rasa yang terdapat di pecel Salinem. Tidak adil hanya menjabarkan poin plus, Mas Brilliant dan Mas Wisnu menempatkan diksi tidak sesuai bikin keliru antar paragraf maklum saja novel dengan 57 bab ini dirangkum dari novel versi cetaknya (informasi cetak di sini). Saya kasih RATE 4,5/5 biar cukup berani.

Terimakasih mengizinkan Salinem bertemu ke banyak pembaca yang sedang meragukan makna perjalanan hidup satu platform yang sangat mengapresiasi penulis serta membantu budaya gemar membaca jangan lelah berbagi ilmu kepenulisanmu, Storial.co
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose