Me of Colorful

Bertemu musim lainnya di Berbagai Rasa (Winter)


Mawar merah di antara banyaknya lavender. Aku mengalihkan tatapan ke arah mawar merah itu. Pemandangan yang menghiasi pekarangan di sekitar pinggiran sungai. Jalanan sudah di penuhi pohon-pohon yang bunganya telah bermekaran dibasahi air hujan. Hujan di pertengahan musim semi tahun ini.

Duduk sendiri di keramaian seperti sekarang merupakan kebiasaan lamaku. Aku terkekeh saat ada yang mengatakan bahwa aku termasuk bagian dari orang kesepian. Untuk alasan yang logis aku juga meng-iya-kan. Bukan, lebih tepatnya aku tipe mandiri. Prinsipnya karena tidak ada yang paling setia dari diri kita sendiri.

“Carla!” Ah, dia lagi. Suara pria muda itu membuatku sebal.

“Kamu ke mana saja?”

Sungguh dia semakin menyebalkan dan keras kepala. Aku menutup telinga sambil berjalan mempercepat langkah berusaha tidak memperdulikannya. Tentu saja aku ingin bersikap seperti orang normal.

Dia terlihat kebingungan. “Hei! Bukannya kamu melihatku?”

“Begini, jadi aku ingin berteman.” Lanjutnya.

“Aku....” Tanpa melanjutkan perkataanku, aku tertunduk lesu. Dan sepertinya orang-orang mulai menatapku aneh.

“Ayo kita pergi. Sudah mulai hujan lagi.” Ucapnya penuh harap. Kini dia ikutan tertunduk disampingku. “Semenjak aku datang kamu selalu dibilang aneh. Aku tau itu yang buatmu dalam kesulitan. Maaf Carla, tapi,”

Aku menoleh sesaat, mungkinkah harus mempercayainya? dan mencoba bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Dia mengerutkan kening meminta jawabanku. “Bagaimana sudah percaya?”

Rasanya sudah sejak lama aku tidak berinteraksi bersama makhluk lain untuk kasus yang berbeda pula. Makhluk disampingku ini tampak masih muda mungkin berusia 21 tahun dengan luka di pelipis kanan. Tidak tau kapan pastinya aku bisa melihat makhluk lain yang jujur saja itu buat diriku dipandang aneh.

Kini hujan telah deras membuat bunga blossom perlahan jatuh di tempatku berteduh wanginya menyegarkan pikiran kembali.

“Aku dengar musim semi di NYC tahun ini akan lama.”
Aku berjingkat kebelakang saking kagetnya. Nyaris lupa dia masih mengikutiku, membuyarkan lamunan saja. Tentu dia melihat ekspresi kagetku tadi dan tertawa senang. --Sekali lagi- aku tidak peduli mengalihkan pandangan ke bunga blossom yang berjatuhan.

“Biasanya orang menikmati hujan dengan coklat hangat. Sudah lama aku tidak meminumnya.” Suara dia terdengar seperti rengekan.

“Kamu harus bawa aku kesana!” Kali ini suara dia bernada memerintah.

Ini benar-benar salah. Kenapa aku yang harus menjalin hubungan dengannya seperti tidak ada manusia lain yang perlu diganggu.

Untuk apa juga dia mau kesana, memegang cangkir saja tidak bisa dan mau minum coklat hangat? Yang benar saja. Aku terkekeh sendiri. Lagian tujuan awalku tadi ingin ke perpustakaan kota. Dan --sekali lagi- aku tidak peduli meninggalkannya yang masih berdiri di depan kafe minuman.

***

“Carla,” panggilnya menuju ruang duduk yang terdapat di sudut perpustakaan. “Kamu meninggalkanku lagi? Kita sudah berteman setidaknya harus pergi bersama.”

Dia menyandarkan punggung ke sandaran sofa dan mendongakkan wajahnya ke arah jendela. Aku mengikuti arah pandangannya. Langit kota New York cerah kembali. Cuaca musim semi selalu tidak terduga sebentar hujan dan cerah. Dia memejamkan mata seperti berpikir untuk mengatakan sesuatu dengan ekspresi serius.

Aku mengigit bibir sejenak pura-pura fokus membaca. Ada perasaan khawatir.

“Apakah kamu tidak penasaran? Mengenai kehidupanku?”

Ekspresinya yang serius tadi berubah imut sementara kedua tangannya di atas meja menopang dagu. Benar dugaanku, kenapa aku harus khawatir?

Aku meliriknya. “Tidak minat.”

“Aku tidak percaya,” sahutnya. “Kenapa?” kataku cepat tidak mau memperpanjang obrolan.

Dia mengeluarkan suara yang terdengar seperti dengusan dan tawa pendek. “Tidak apa-apa, aku hanya benci kesendirian.”

Aku mengerjap. Apakah aku terlalu kasar padanya atau perasaan dia yang sensitif.

“Baiklah kalau begitu.” gumamnya. Dia tidak berbicara lebih banyak lagi dan hendak pergi pelan menjauh dari pandangan.

Seperti biasa tidak ada yang bertahan bersamaku bahkan ‘makhluk lain’ sekalipun.

Aku sedang duduk melamun di antara para pengunjung sesekali mengamati buku-buku di depanku. Suasana hati dan pikiranku saat ini tidak sejalan. Yah, aku tau penyebabnya si-tuan hantu. Tiba-tiba ponselku bergetar panggilan dari Els –adikku-

“Carl, mommy, hilang. Aku pulang tiga menit lalu ternyata rumah sudah kosong.”

“Sudah menghubungi panggilan darurat?”

“Sudah. Mereka sekarang mencari mom dengan bantuan polisi juga.”

Dengan panik aku memutuskan obrolan Els dan mencari taksi bergegas menuju ke rumah. Pandanganku terhenti di gerbang perumahan yang berada di simpang lampu merah. Mungkin mommy disana lagi.

Crek. Perlahan aku membuka pintu rumah kosong bercat hijau ini, dari kejahuan aku bisa melihat mommy sedang duduk disamping lemari mengobrol bersama tiga makhluk lain. Mungkin bagi manusia biasa mommy terlihat seperti orang gila yang berbicara sendiri. Aku mencoba mendengar obrolan mereka di balik pintu.

“Biarkan aku berada disini sebentar. Aku mohon.”

Suara permintaan mommy kepada makhluk itu membuatku makin penasaran.

“Aku hanya ingin membantu kalian. Kasus kecelakaan itu juga menimpa keluargaku dan aku masih merasa bersalah.”

Aku diam mematung mencoba mencerna perkataan mommy. Kedua kakiku perlahan lemas teringat akan daddy yang meninggal karena kecelakaan. Mobil yang kami tumpangi menabrak pembatas jalan tol mengakibatkan satu mobil keluarga lainnya meninggal.

“Mom aku ingat semuanya,”

Mommy terkejut mendengar ucapanku. Belum sempat aku melanjutkan ucapan Els dan petugas polisi datang.

“Mom baik saja? Carl, kenapa tidak langsung menghubungiku mommy ada disini.”

“Maaf Els. Tolong ajak mommy pulang duluan biar aku menyusul.”

Selepas Els mengajak mommy pulang tatapan mata mommy semakin membenci dirinya. Aku yang sejak tadi masih di dalam rumah kosong ini bingung untuk mengatakan semua ingatanku nanti.

“Carla.”

Hantu pria muda itu memanggilku lagi. Kali ini aku sudah bisa bersikap ramah padanya.

“Sungguh aku hanya ingin berteman denganmu,”

“Maaf. Memang aku butuh bantuanmu untuk sebagai pendegar.”

Mereka berdua kini berjalan di trotoar menuju kafe minuman tadi. “Memang musim semi sangat cocok minum coklat hangat.” Sudut bibirku sedikit melengkung.

“Iya! Terima kasih Carla.”

“Apa alasanmu berteman denganku selain sebagai pendengar?”

“Tidak ada.”

“Tapi aku bukan orang yang baik semuanya tidak akan bertahan lama denganku.”

Dia menjawab dengan senyuman ringan bahkan dia sudah berada disebrang jalan, otomatis aku harus menyebrang menunggu lampu lalu lintas berwarna merah.

“Harusnya kita sepakat dulu mau jalan yang mana.” Tepat di depan makhluk lain itu aku memprotes.

“Sengaja. Katamu tadi orang tidak akan bertahan berteman denganmu? Menurutku itu hanya perasaanmu saja yang selalu negatif.”

“Tidak, mereka terkadang menjauh dariku.”

“Aku pernah menyesal bersikap tidak butuh orang lain tetapi aku juga bangga bersikap mandiri. Karena sikap itulah membuat diriku egois tanpa berpikir positif.”

Aku menatap langsung sorot mata penyesalan. “Kenapa sekarang aku jadi iri padamu ya?”

Dan lagi dia tersenyum ringan. “Aku yang harusnya iri padamu Carla. Aku sangat ingin punya kesempatan lagi untuk bilang jujur pada semua yang menyayangiku,”

“Sikap egoisku selalu gengsi membalas kebaikan mereka bahkan menunjukkan rasa penyayang pun sulit. Aku tidak mau kamu sepertiku juga. Selagi masih punya kesempatan balas kebaikan orang tanpa orang tersebut melakukan kebaikan dahulu.”
Dia berhenti berkata-kata. Pandangan pria muda beralih pada seorang nenek yang duduk diluar kafe menunggu cucunya selesai bekerja.

“Akhirnya sampai! Bau coklat selalu menghangatkan bukan.”

Aku mengangguk bergegas memasuki kafe.

“Ada alasan selain mencium bau coklat. Aku bisa merasa menjadi cucu dari nenek disana melihatnya saja membuat diriku dikelilingi orang yang menyayangi.” Ucapnya kepadaku. Sedetik kemudian tercipta keheningan di antara kami.

“Dev, Devran. Maaf aku baru ingat sekarang mungkin aku terlalu khawatir pada mommy. Aku dan Els berjanji akan menjaganya, kami sangat rindu padamu dan juga dad.” Suaraku bergetar menahan tangis.

Devran. Saudara kembarku—makhluk lain—yang mengingatkan kepada kenangan keluarga yang berserakan seperti puzzle.

Devran tersenyum lebar. “Aku tau kamu pasti akan ingat kembali Carl,” jedanya untuk menyeringai, “Kami bangga pada kalian. Mommy bersikap begitu karena terlalu sayang kalian. Carla sepertinya kamu sepanjang jalan kesini berbicara sendiri. Tidak mau bersikap normal lagi?” Tunjuk Devran keseliling. Benar semua orang telah menatap aneh.

“Biarkan saja.”

Aku segera menghampiri pelayan kafe menunjuk menu. “Saya mau pesan dua cangkir hot chocolate.” Gumamku dan dibelakang Devran mengikuti langkahku.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tulisan kedua di tahun 2016. Di tempat yang sama ini saya membiasakan untuk nulis lagi sejak menuntun berdamai dengan keadaan. Diri yang terdampar mengiringi langkah selama empat belas tahun. Perjalanan yang tampak berliku memamerkan setiap rasa penuh ke-egoisan tanpa berpikir tentang kemanusiaan. Tinggal di negeri yang berjuta kontrovesi membuat saya harus berpikir dua-tiga kali dalam kedepannya. Perlahan saya dipaksakan belajar untuk mengenal kemunafikan memilih dua pilihan antara bermuka dua dalam kesenangan atau jujur berakhir kesengsaraan. Hanya itu yang saya rasakan. Miris memang untuk berpendapat dan menyampaikan hak saja tidak di izinkan. Seterusnya menjadi kasus yang klise ntah sudah berapa banyak air mata karenanya.

Sebagai makhluk yang belum menjadi apa-apa dan tak di kenali. Saya bisa bengong saja terkadang menatap dari kejauhan, terpekur dengan perasaan yang ingin membantah bahkan tertawa sedih. Sebegitu rendahnya manusia sampai membedakan status yang lain.

Bukan karena saya sekarang menyukai lagu ballad bersama temperatur cuaca mencapai 30 selsius. Saya seakan berada di lautan orang yang menyimpan “tangan kanan” tanpa melihat apa arti proses yaitu dibedakannya hanya di atas kertas penilaian berdasarkan tertulis. Pernah saya alami sendiri, mereka dengan gampangnya memberi nilai tapi tidak ada pertanggung jawaban. Beragam alasan yang kami tau betul apa maksudnya. Niat awalnya saling berbagi pengalaman dan kekeluargaan harus rusak karena masalah konflik antar subjek. Saya jadi menyimpulkan, jika memang masih begini kedepannya bisakah kalian berubah. Saya tidak setuju bila mengukur kejeniusan orang cuma dari segi akademis. Banyak ilmu yang di dapatkan bukan sekadar membaca, berinteraksi serta menghargai orang lain itu salah-satunya. Dengan memandang lingkungan di sekitar saja saya sering mempelajari bahwa ilmu ada dimana dan kapan saja.

Sudah lama saya ingin mengutarakan. Tidak apalah bila tersampaikan hanya kalimat sedikit ini saja yang dapat mewakilinya. Maaf, tentang tulisan berupa kekecewaan. kepada yang katanya lebih berpengalaman coba sesekali untuk merendahkan diri. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Cerita pendek ini mewakili keinginan saya untuk menjelajahi negara empat musim.
Sama seperti di cerita bersambung "Setiap Cinta adalah..." pada cerita juga akan merangkum dari berbagai makna mendasar dalam melihat kehidupan dengan cinta.


Annayo melangkah memasuki kedai kopi sembari menunggu kereta ke stasiun menuju Kyoto. Ia melihat para pengunjung kian ramai dipadati oleh wisatawan menjelang akhir tahun. Kyoto salah-satu kota yang digemari ketika musim dingin.

Annayo mengerjap. “Ah, iya... aku tidak berniat memesan kopi.” Mata hitamnya terbelalak lebar menatap taburan caramel latte diatas secangkir kopi.

Selama tiga bulan terakhir ia banyak belajar dari secangkir kopi, bukan karena kopi minuman yang lagi trend ataupun memiliki cerita yang bisa dijadikan ungkapan. Bagi Annayo kopi ialah bagian dari rasa pelengkap. Rasa yang membuatnya mengenal arti awal kehidupan. Ia hanya tau kehidupan tentang kesakitan maka dengan meminum kopi bisa berbagi perasaan yang dialami. Dua puluh tahun Annayo menjadikan dirinya tertutup akan orang lain. Baginya orang lain membuat dirinya dalam bahaya tetapi satu orang mematahkan presepsinya.

Oh, aku sudah gila, pikir Annayo sambil mengaduk pelan kopinya yang mulai dingin. Ia bingung sama pikirannya sendiri. Apakah ia akan mengenang masa lalu sebagai perubahan? Sepertinya begitu.

Satu orang yang mematahkan presepsinya itu mengatakan, kehidupan tidak disamakan seperti kopi yang dikatakan kebanyakan orang tapi tidak juga penyebab dari kesakitan. Kalau memandang kopi sebagai langkah awal kehidupan mungkin barbagai definisi. Semakin diaduk endapannya menyebar dan semakin di diamkan endapannya menyatu maka kita ada dikeduanya. Mungkin untuk memahami.

Annayo memejamkan mata dan menggeleng-geleng. Sangat bijak, Mengeluarkan suara setengah mendengus, setengah terkekeh.

“Baiklah. Kopi adalah bagian dari rasa yang memahami.” Kata Annayo melirik kertas yang ia tulis tadi. Jam menunjukan pukul 05.10 pm sebelum 20 menit kereta tujuan Kyoto berangkat ia bersiap memakai overcoat hangat untuk melapisi sweaternya. Walaupun suhu kini -2⁰C salju akhir tahun belum turun lagi.

Keluar dari kedai kopi menuju ruang tunggu penumpang, Annayo mendengar gema alunan musik khas Negeri Gingseng. Mengingatkan cerita tentang apa yang dialaminya selama tinggal di Korea.

“Jelas beda ini namanya bimbbap.”

Annayo mengangkat bahu. “Yah, aku bilangnya ini sushi tapi tidak ditambah sashami saja.” Seperti kata orang-orang, menilai dari dalam barulah bisa menilai luarnya. Bagi Mr Joo bimbbap dan sushi sama seperti pernyataan tersebut. Keduanya memiliki isi yang berbeda walaupun terbuat dari nasi yang digulung. Dia sahabat barunya di Korea. Tatapan Annayo terpaku kepada Joo masih bingung dengan alasan klasik itu.

“Ketika aku mengenalmu, aku tahu kau sama sekali berbeda. Aku sangat nyaman belajar hal dimana orang-orang hanya mengenalnya dari bacaan atau cerita saja tapi aku merasakannya langsung. Bahkan kau mengajariku ‘sesekali bodoh’ pada kehidupan untuk tidak terlalu serius.”

“Jadi kau pasti tau dimana letak bedanya? Dalam pencarian atas makna hidup yang sesungguhnya, perlu sebuah perbedaan dan untuk menemukannya harus banyak mengenal dari dalam bukan hanya melihat luarnya. Ketika kau telah menemukan maka rasa itu berbeda ada kenyamanan disana.”

Alunan musik dari salah-satu band di Amerika mengantikan playlist musik K-Pop menyadarkan Annayo dari lamunan. Pintu kereta terbuka, penumpang yang menuju Kyoto segera mengantri di depan gerbong. Ia bergegas masuk ke antrian sesekali melirik jam tangannya. Pukul 05.28 pm. Terlambat beberapa menit saja pasti ia akan disuruh kondektur memesan tiket di jam lain.

Pebedaan yang akan membuat kenyamanan, Annayo mengangguk dibangku keretanya memikirkan kembali perkataan Joo.

Kereta melaju cepat meninggalkan stasiun memperlihatkan pepohonan khas musim dingin. Dari kaca jendela Annayo melihat kagum pemandangan rumah penduduk serta kebun yang dibangun di atas bukit. Perlahan ia merasakan angin menampar pipinya. Kini butiran salju akhir tahun telah turun hawa dingin semakin menguasai tubuh. Annayo memasukan ponselnya kembali di urungkannya niat untuk mengetik pesan. Terdengar suara anak kecil dibelakangnya bergumam sedih.

“Eomma, appa tidak ikut? Doo Kyung mau di Seoul saja sama appa!”

Ibunya mendesah pendek. “Doo Kyung... appa masih ada kerjaan di Korea.”

“Bermain bersama appa dan eomma lebih menyenangkan. Eomma, liburan kan bisa kapanpun.” Jawabnya membuat ibunya dan Annayo tersentak. Ia menoleh kebelakang tersenyum mengamati wajah anak laki-laki bernama Doo Kyung itu.


***

Butuh waktu beberapa tahun bagi Annayo memahami maksud ibunya saat ia bertanya kenapa ayahnya mau bertemu satu tahun sekali. “Ayah punya kejutan untuk mengajak bermain makanya dalam satu tahun ia akan berkunjung.” Ia ingat betul ketika merindukan ayahnya ibunya selalu memberikan sebungkus coklat. Walaupun pada akhirnya ia  mendengarkan juga kenyataan yang tidak akan bisa diubah kembali.

“Sekarang ibu dan ayah punya jalan yang berbeda kita tidak bisa kearah sama.”

“Lalu? Bu, bukannya kalian harus mengulang dari awal untuk memilih jalan lain agar sama." 

Ibunya tersenyum. “Tentu saja. Jalan itu hanya kau Annayo.”

Annayo menghembuskan nafasnya dengan perlahan, mencoba menahan kedua matanya untuk tidak menangis. Ia memiringkan kepala, berpikir agar Doo Kyung tidak sedih lagi.

“Ini coklat dari kakak, jadi lelaki yang pintar ya.”

Hening sejenak sementara Annayo mengelus pipinya dan tersenyum kepada ibu Doo Kyung. Sesaat kemudian Doo Kyung membalas dengan senyuman kecil.

Tinggal 15 menit kereta akan sampai di stasiun Kyoto. Lampu jalan raya kota Kyoto kelihatan dari kejahuan dan pinggiran trotoar sudah tertutup gundukan es. Annayo memfokuskan diri untuk menulis dua lembar lagi sesekali menyesap teh hijaunya. Aroma teh hijau selalu membuatnya tenang. Banyak pilihan menjalani segala sesuatu kadang-kadang merasa seperti perenang yang harus maju tanpa tau rintangan apa di depan. Sudah hampir dua lembar selesai ditulis ia berencana ingin mengajukan proposal tulisannya ini. Tekad untuk menerbitkan novel kembali telah lama dipikirkan. Annayo, penulis di kantor swasta terkenal Tokyo. Sebagai penulis ia telah banyak menulis artikel serta surat kabar. Sudah hampir lima tahun untuknya tidak menulis novel lagi.

Annayo terdiam selama beberapa lama.

“Kenapa cerita menyedihkan ini dimasukkan juga? oh dear...” gumamnya.

Dari lubuk hatinya ia merasa senang sekaligus terharu membaca kembali proposal yang selesai ditulis tadi. Entah mengapa, hidup yang telah dilaluinya dulu bakal rumit. Tetapi sekarang Annayo tersenyum lebar ada banyak pembelajaran yang membuat dirinya kian bertambah dewasa.

Cerita pada proposal yang akan dirangkumnya berhubungan dengan filosofi akan ketegaran. Selain sikapnya yang tertutup dulu seiring juga terbentuk sikap ingin berbagi. Ia bukannya tipe orang yang bisa menyimpan baik kesedihan. Duduk menunggu orang yang tepat memang melelahkan. Namun waktu begitu baik mengizinkannya bertemu perempuan itu.

Pada pukul 11.50 pm menjelang pergantian tahun. Annayo melirik perempuan seumurannya sedang meminum teh hijau yang baginya aroma teh itu menenangkan.

“Kamu tidak suka?” tanya si perempuan tersenyum sinis.

“Ah, tidak... bisakah kamu mau dengar ceritaku sebentar saja.” Kata-kataku tercekat rasanya ingin sekali menangis. Perempuan bersyal merah itu langsung memeluk Annayo.

“Dengan menangis akan buat kamu tidak sakit jadi ceritalah.”

“Be-benar juga, ya,” Annayo balas kikuk sambil mengendurkan pelukan.

Ia menatap kedua mata perempuan itu dalam-dalam. “Makasih.”

Sejenak tidak ada yang bersuara.

“Kamu orang pertama yang nawarin bantuan untuk mendengar cerita. Aku senang.” Jelas perempuan itu memecahkan keheningan.

“Jadi menangis saja kalau kamu tidak mampu menahannya lagi.” Katanya.

“Mau tau rahasia selain menangis? Yaitu dengan menyesap aroma teh hijau. Aku sering melakukannya dengan begitu perasaan akan jadi tenang. Sama seperti kita berada di puncak gunung merasakan dekat bersama alam. Setidaknya aroma alam bisa membuat kita menyadari ruang kesedihan tidak selamanya sendiri ada keharmonisan juga.”

Annayo mengangguk setuju terkesima pada setiap kata-kata ucapan perempuan itu. Betapa malunya ia yang mudah sekali menangis.

Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya, berdiri memandang langit yang dipenuhi kembang api khas malam tahun baru. Jarum jam telah menunjukan 00.04 am. Ia bersiap berlari menuju kakaknya. Langkahnya terhenti saat Annayo menahan pergelangan tangannya.

Annayo tersenyum. “Namaku Annayo. Nama kamu?”

“Naomi. Aku duluan ya.” Balasnya dengan senyuman juga. Dengan memandang langkah kepergian Naomi, perasaan Annayo sudah tampak lebih tenang.

*

Hawa dingin makin terasa menyeruak masuk ke dalam basment parkiran ketika Annayo turun dari kereta menuju pintu keluar. Terkadang orang di kiri-kanannya berlalu-lalang dengan mempercepat langkah untuk bersiap merayakan malam pergantian tahun. Susah payah ia menarik kopernya agar tidak ditabrak. Di sini tempatnya sekarang, duduk disamping halte pemberhentian bus angin bertiup pelan. Sungguh embusan angin musim dingin yang mengigil sempurna. Satu persatu bus menuju pusat alun-alun Kyoto tiba. Malam ini di alun-alun akan diadakan pesta kembang api dan festival musik.

Menempuh rute perjalanan kereta selama 3 jam, ia lupa untuk menghubungi ibunya. Tampak ibu berusia akhir 40 sudah menunggu diseberang halte bus, yang langsung dipeluknya hangat.

“Sudah lama, bu?”

“Oh, Annayo? Hampir saja ibu membeku.” Ibunya mencibir. Dibalas Annayo dengan cengiran di wajah sebagai respons.

“Sebagai permintaan maaf ajak ibu lihat kembang api!” lanjutnya.

Annayo mengangkat alisnya. Ia agak bingung melihat sikap ibunya, menirunya saat kecil yang ingin melihat kembang api.

“Ayo!”

Dan, terkadang berbagai rasa pada masa lalu mengajarkan untuk berani keluar dari zonanya, lanjut Annayo dalam hati. Ia tersenyum menatap langit yang berwarna-warni.



Bertemu musim lainnya di Tentang Maple (Autumn)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose