Me of Colorful

Welcome 20th.  Makin banyak pembelajaran serta dosa hehe. Alhamdulillah Allah selalu menyayangi dan melindungi. Doa kan menjadi khalifah yang bermanfaat. Aamiin...

Untuk kehidupan yang sesederhana ini saya lebih banyak berdiam dalam renungan mengamati setiap proses terjadi dari yang dialami orang lain, tentunya diri sendiri juga. Intinya Tuhan memang adil punya rencana yang bisa dijadikan inspirasi. Sama seperti pada postingan sebelumnya. saya mengalami suatu kekecewaan dan mencari zona nyaman. Tapi ternyata saya salah.

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang memotivasi siapapun itu. 

3 tahun lalu, lebih tepatnya saat mengenal tentang mimpi. Dalam seusia yang labil dan kurangnya 'jati diri' mungkin memaklumi. Tekad saya saat itu ingin sukses. Sukses yang saya minatkan. Misalnya menjadi sastra, dokter hewan atau ilmu komunikasi. Semua yang saya inginkan itu tiba-tiba lenyap mungkin diibaratkan menunggu senja yang ada malah mendung. Di saat itu juga saya mengarahkan diriku mengikuti arusnya membiarkan bertepi tanpa tujuan yang pasti. Pengecut. Memalukan.

Tidak banyak pemikiran positif yang saya cerna. Selalu terfokus pada insting si minat. Yah, akibatnya menyesal sendiri.

Dan sekarang saya tau kalo disini 'jalan' Allah yang menuntun dan harusnya bersyukur. Memang dulu menjadi seorang penulis, psikolog, wartawan, dokter adalah mimpiku. Tetapi bahwa 'jalan' ini lah yang spesial membawa pada jatuh-berdiri untuk sukses nangis-tawa di setiap cerita duka-suka prosesnya. Maafin selama ini saya belum sadar terkesan cuek. Untuk mengikhlaskan keadaan saya tidak akan egois lagi menganti minat ke terbiasa. Karena Engineer pilihan yang terbaik. Bukan keinginan yang diberi Tuhan tapi Tuhan tau apa yang di butuh. Insya Allah menyukainya sama hal seperti saya suka menulis :))


NT: 20th ini sama gk ada perayaan dan ucapan yang banyak lagi mungkin lupa yaa, gk apa asalkan kalian gk lupa kalo selamanya sayang kalian
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Yang Maha Kuasa. Aku bersyukur bisa mengenal dunia yang bersifat semu ini darinya aku tau arti kehidupan sesungguhnya tentang dua hal berbeda, kesalahan dan kebenaran. Tapi terkadang kalimat menyerah yang selalu dilontarkan, menyadari betapa lemahnya hamba. Ntah sejak kapan aku merasa diriku kosong hidup tanpa jiwa yang pasti. Sebentar-sebentar perasaan kian berbeda. Capek? Kalo dibilang iya mana mungkin aku bertahan sampai sekarang namun sebenarnya aku hanya kurang peka saja. Mencari cinta yang sama sekali tidak tau apa definisi cinta itu sendiri. Mungkin cinta disini universal, menyeluruh.

Seperti anak kecil yang baru mengenal lingkungan. Seperti itulah cinta di kehidupan ku. Ada banyak kata-kata yang tidak bisa aku jelaskan secara deskripsi. Di sisi lain aku takut untuk melangkah jauh. Peng-khianatan dan ketidak-adilan yang akhirnya harus di dapat.

Untuk saat ini, aku hanya bisa menjaga cinta yang benar-benar terlihat. Membuat tersenyum dan tidak akan mengecewakannya tetap beristiqomah memperbaiki diri. Cinta kepada Tuhan dan Orang Tua. Dari terlahir sebagai “kertas bersih” ternyata cintaNya memang sudah datang dengan apa adanya. Selebihnya, butuh proses mengenal cinta lain yang pasti. Tuhan, izinkan aku menyapa cinta yang lain itu. Aku mohon.

Bila waktu datang, jika aku akhirnya jatuh juga... buatlah cinta atas dasar cinta karenaMu, menuntut dijalan yang mengajarkan kebaikan, cinta yang sama-sama belajar memahami kehidupan, cinta yang menemukan titik akhir, cinta yang tulus setelah cinta padaMu, cinta yang berwarna kebahagiaan dan selalu menunggu untuk disapa.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Semburat cahaya pagi menerpa wajah walau sekarang memasuki musim dingin tapi salju belum turun mungkin pertengahan bulan. Aku terharu mengamati setiap sudut kedai ini. Pikiranku menerawang ke beberapa bulan silam saat aku tidak punya apa-apa dan harus tinggal sendirian di kota besar tanpa tempat tinggal. Namun ada seseorang yang berbaik hati mempercayaiku menjadi owner kedai miliknya. Yah, inilah kedai kopi yang berada di belakang ruko penduduk. Terpencil memang banyak orang yang bingung mencarinya. Tapi lihatlah sekarang, masih pukul delapan pagi saja meja sudah hampir dipenuhi pengunjung. Resep kopi terbaru di musim dingin selesai kubuat. 

Aku mendapati dua kiriman surat sekaligus di atas meja kerjaku. Sama seperti hari-hari kemarin tanpa nama si pengirim, tidak ada tulisan apapun di amplopnya.

Ini adalah surat ke-empat yang ku terima. Sebenarnya aku menganggap surat-surat ini hanyalah surat biasa. Bahkan dari surat pertama sampai sekarang pun belum kubuka, hanya ditaruh di kotak berwarna hijau saja. Akan tetapi, lama-kelamaan aku selalu mendapatkan surat itu di setiap harinya. Topik pembicaraan mengenai surat-surat ini ternyata menjadi pertanyaan besar bagi diriku tentang apa isi dan siapa pengirimnya.

Ya Tuhan! Apa maksudnya?

Mataku menyelidik, melihat sekeliling ruangan kedai yang tidak terlalu besar. Orang-orang semakin riang bercengkerama. Semuanya bergembira tidak tampak ada kecurigaan. Aku menghela napas panjang. Mana mungkin pengirim surat ini salah-satu dari pengunjung kedai. Meski aku penasaran ingin sekali membukanya, entah mengapa hatiku menolaknya.


***

Menjelang minggu ketiga, terlihat jendela telah ditutupi uap yang berasal dari hembusan angin salju sejak semalam. Aku menoleh sebentar ke arah luar. Sangat menyenangkan melihat salju yang turun perlahan, sembari merapatkan jaketku. Minggu pertama di musim dingin memang sangat terasa. Makanya jangan heran, terkadang orang-orang memakai pakaian berlapis-lapis. Soal surat? Aah, masih sama. Surat ke-enam dan aku tidak mau membukanya.

Sepanjang hari banyak hal yang telah aku renungkan. Tentang hidup dan surat itu.

Akuilah semejak kehidupanku berubah tidak lagi seperti dulu. Muncul juga surat misterius. Dunia sungguh sempurna, permasalahan datang beriringan dengan suatu kebahagiaan tanpa kita sadari. Layaknya bintang malam yang siap menunggu peradaban senja. Hadirnya memberikan makna tersendiri.

Mendadak air mataku jatuh. Menangis bahagia bahwa Tuhan sangat perhatian dengan makhlukNya.

Ragu. Gemetar tanganku meraih kotak surat. Sepertinya aku mulai tau.



Teruntuk belahan jiwa. Salam rindu dan maaf...
Perjalanan yang mengajarkan tentang perubahan. Awalnya aku sama sekali gak ingin membuka suratmu, ntah sudah ada berapa pertanyaan yang hinggap dipikiranku. Semejak saat itu pula aku tersadar dari perjalanan yang berbelok. Setelah aku renungkan, lambat waktu aku baru mengerti apa maksud suratmu ini. Maaf atas sikap yang dingin.
Selama tiga bulan aku di kota besar, tidak ada apapun yang aku pikirkan selain pekerjaan kecuali aku sangat amat merindukan kalian. Mungkin aku yang bersalah meninggalkan kalian tanpa seorang ibu bagi anak-anaknya. Hanya karna kekecewaan dan rasa malu. Ternyata Tuhan menyayangiku, kalau bukan oleh seseorang yang berbaik hati itu mungkin aku sekarang sudah menjadi gelandangan. Kamu tau? Itu berarti kesalahanku bertambah. Tapi gak, Tuhan masih memberi kesempatan lagi untuk memperbaiki ini semua. Melalui surat-suratmu. Dengan surat itu juga aku masih mengingat awal pertemuan kita. Tentang bertukar cerita saling mengirimkan surat di tiap minggunya.
Bukan perkara mudah bagi kita memutuskan tali pernikahan. Aku masih sangat mencintaimu kamu pun demikian. Disini saja aku masih memandang kotak hijau itu menunggu kalau-kalau di dalamnya terdapat salah-satu suratmu. Menyadari terdapat surat tanpa pengirim di amplopnya, aku sadar mungkin itu surat darimu. Kamu pernah bilang, “tanpa alasan, cinta memiliki ciri khasnya walau terkadang menjauh, menghilang dan bersembunyi tapi cinta sejati tetap bersama di tempat semestinya yaitu hati.”
Dan ciri khas cinta sejatiku gak pernah salah. Surat itu benar darimu. Aku gak tau harus bagaimana sekarang, sepertinya aku lebih senang bersama kalian lagi disana. Biarlah aku menanggu risiko apa yang aku perbuat nantinya asalkan aku tetap bersama kalian seperti dulu, mencintai kalian, dan gak akan meninggalkan kalian.
Kamu tetap sama bahkan saat aku bersalah juga kamu selalu mengigatkanku akan guratan sisa-sisa penyesalan. Menutupnya dengan goresan indah. Mari ajarkan aku untuk memperbaikinya. Terima kasih yang terbaik. Hanya kata maaf terdalam, aku masih sayang. Secepatnya semoga kita bisa menjalin bersama lagi, untuk memaknai setiap pertumbuhan langkah malaikat-malaikat kecil kita. See ya!!
Istrimu, Vanya


***

“Hai!”  terdengar suara berat memecah kesunyian. Pria itu tersenyum.

Aku melepaskan kacamataku, menoleh berbalik ke arah sumber suara.

“Vanya, aku juga masih sangat mencintaimu. Jangan pergi lagi. Kami merindukanmu rumah sepi tanpa seorang ibu dan ka__”

“Ergh, a,.. aku, minta maaf atas semuanya, maafin mama juga ya sayang.” Aku memotong ucapannya, menunduk lemah. Merangkul dua malaikat kecil ini. Mereka semakin bergelayutan manja. Sepertinya sangat rindu.

“Eh, bagaimana kau tahu aku disini?”

Ia sedikit bingung menatapku. Aku berdehem pelan.

“Ciri khas cinta sejatiku gak pernah salah, selalu menunggu di depan kotak surat, yah seperti sekarang ini.” Dia memeluk sembari mengelus lembut kepalaku, tertawa lepas. Aku balas mengulum senyum dibalik bahunya. Musim dingin yang berkesan.

Sungguh kebahagiaan abadi!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose