Me of Colorful


Cerita pendek ini fiksi. 
Sebagian di antaranya ditulis ulang dan terinspirasi
dari beberapa kisah lainnya. 

====

Perpustakaan di sudut taman kota itu sepi. Nyaris semua orang tidak tertarik untuk sekedar mampir. Hanya ada empat-lima orang saja yang berkutat dengan bacaannya. Padahal di sini pengunjung bisa merasakan kesejukan yang asri. Keheningan di ruangan perpustakaan berangsur-angsur terpecah oleh celotehan seorang gadis. Gadis itu mengibaskan tangannya kasar karena belum menemukan buku yang dicari. Terus membolak-balik buku di rak dan berjalan ke rak lainnya. Masih sama. Kesal. Di saat bersamaan pria di depannya malah tidak peduli dengan keadaan di sekitar. 
        “Mas! Serius banget bacanya. Boleh gue lihat bentar nggak itu buku.” kata Nindi.
        Pria itu menoleh sesaat.
        “Boleh ya mas masalahnya gue lagi ada tugas tapi bukunya nggak ada mung__”
      “Bisa sedikit saja menjauh dan jangan bawel!!” potong sang pria geram. Ia mendengus pendek. Mendelik sekilas pada manusia di hadapannya. Nindi nyengir. “Iya, maaf. Gih, lanjutin mas bacanya.”
        Semejak dua jam yang lalu pria bernama Tivon ini memilih duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Tanpa sedikit pun menyadari, gadis bersepatu kets yang tidak dikenal ini langsung ikut duduk di sampingnya. Gadis bawel. Bukan salah-satu tipe dari Tivon. Nindi menatap lirih wajah Tivon. Mencari setiap celah untuk membuatnya bersahabat. Kini jarak wajah keduanya cuma tiga centimeter, begitu sampai pada binar matanya, Nindi kini tau bahwa ada sesuatu yang tulus dari Tivon. Ia kikuk.
        “Apa ada perasaan amat rindu...,” gumam Nindi dia terdiam sejenak. “sangat, sangat, sangat rindu.” Tivon tertegun tidak minat lagi dengan bacaannya.
        “Menginginkan kembali untuk bersama, elo jangan tolol.”
        Suasana hening. Tivon tampak bingung, siapa sebenarnya ini gadis? Pernyataan itu berputar di otaknya. Tivon merasa dirinya sudah tidak waras seperti mencium gelagat yang akan membuka kesedihan. Tiba-tiba, Nindi bangkit dan berjalan menghampiri pintu keluar yang sebelumnya sempat memberikan seutas senyuman.

***


        “Kenapa ketawa.” Tivon cepat memotong sebelum tawa gadis itu makin pecah.
        Nindi menggeleng kecil. “Lucu aja,” sahutnya pendek. “Lagian elo nanya aneh sih, kalo gue malaikat atau hantu mana bisa ngomong sama manusia.” Sebenarnya tadi Nindi ingin pamitan pulang tapi Tivon malah menyuruhnya untuk mengobrol di taman samping perpustakaan. Setelah berdehem beberapa kali barulah pemuda itu tersadar dari lamunan.
        “Udah pernah merasa kehilangan nggak?”
        Tepat bersamaan dengan pertanyaan Tivon tersebut Nindi merasakan dirinya lemah. Seandainya bisa menangis di depan orang yang sudah lama dikenalnya ia akan menangis detik itu juga tapi pria ini terlalu asing buatnya. Keheningan kembali menguasai mereka. Seperti pepatah ‘diam adalah emas’ memang tidak berlaku pada suasana sekarang. Lagipula harusnya Nindi bisa mencairkan suasana dan ntah mengapa pertanyaan tadi mampu buat ia sulit berkata-kata.
        “Kok diam. Memang banyak orang risih kalo dengar kalimat kehilangan.”
        “Eh? Ya, ampuuun apa gue kelihatan risih ya,” keluh Nindi sambil meraba mukanya. Tivon melongo semakin bingung dengan gadis itu. Gadis berkepribadian ganda sebentar bawel, sebentar marah, dan sebentar lagi sedih. Begitu mendekati pelantaran luas  berwarna hijau Tivon langsung menjatuhkan tubuh di rerumputan supaya bebannya terasa ringan. Nindi berdiri disamping Tivon sambil memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
        “Ngapain disini? Gue harus pulang nih.”
        “Duduklah, gue masih ingin ngobrol denganmu.”
        Tivon menghela napas. “Rasanya... terkadang rindu buat gue menginginkan dia. Sekarang.., dia hanya bisa gue temui di doa saja. Tuhan sangat sayang dengannya, jadi bidadari di surga sana.” Tak ayal, hal itu membuat Nindi terkesiap dan ikut tiduran di rerumputan seperti yang dilakukan Tivon tadi. Gadis berambut sebahu ini merasa iba.
        Sejenak Tivon memejamkan mata, menekan rasa sakit yang juga terasa di dada. “Sampai detik ini, perasaan gue tidak pernah berubah padanya. Tidak ingin berpikir untuk mencari penganti di__”
        Nindi langsung memotong. “Jangan egois cobalah berdamai pada keadaan dulu.”
        “Mungkin iya, gue akan mencobanya perlahan,” Tivon menarik napas panjang.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Lama aku mengerjapkan mataku menatap sekeliling ruangan kamar. Seperti biasa aku selalu tertidur di antara tumpukan buku-buku tebal dan kertas yang berhamburan ntah kemana itu. Dan bila pagi menjelang aku terbangun dengan kepala sedikit pusing. Jadwal ku hari ini cukup padat. Dua jam lagi harus bersiap menuju ke bandara. Semejak lima tahun lalu aku yang bekerja di kedutaan negara tetangga, membuat tidak ada lagi waktu untuk bertemu dengan keluarga dan teman-teman seperti dulu tetapi sekarang aku telah terbiasa. Bahkan aku sudah bisa membeli rumah dan mobil mewah dari uang gajian. Ini menyenangkan. Aku buru-buru meminum coklat hangat, menyambar balazer dan higheels menuju pintu garasi.

Delapan menit berlalu mesin mobil ini tidak hidup juga, terpaksa aku berdiri di halte menunggu bus yang lewat. Uh! benar-benar menyebalkan. Debu yang menempel di kulit. Panas matahari membasahi peluh. Tatapan sinis orang-orang. Sungguh pagi hari yang sial. Gerutuku dalam hati. Bus menepi di perempatan halte seketika puluhan orang-orang berebut menaiki, kaki kiriku terjepit dan map-map berkas yang kubawa berantakan. Untungnya aku langsung kebagian tempat duduk tanpa kupedulikan wanita lansia yang berdiri di sampingku. Jam telah menunjukkan pukul 07.40 WIB masih ada waktu untuk tidur sebentar karena jarak bandara cukup jauh.

“Mbak bangun, ini sudah terminal akhir mau berhenti dimana?”

Samar-samar terdengar suara kondektur bus membangunkan ku. Puluhan orang-orang di dalam bus tadi tidak ada lagi hanya ada kursi-kursi kosong. Mampus. Aku menepuk kening beberapa kali lalu bergegas turun.

Tiba di depan sebuah warung makan kakiku tidak sanggup berjalan. Pukul 08.25 WIB pasti pesawatku sudah berangkat. Aku sungguh pasrah tidak bersemangat. Kini aku hanya memerhatikan gelagat kehidupan pinggiran jalan yang kumuh. Memori kenangan saat kecil terlintas. Dimana aku dan kakak-kakakku bermain mengejar layangan sembari menemani mama berjualan di pasar. Eh, aku kangen mama! Dengan cepat aku mencari handphone di tas tapi map-map berkas saja yang ada. Astaga aku kecopetan di bus tadi semuanya hilang.

Aku menghela napas panjang bepikir dalam hati. Apakah ini karma? Apakah terlalu egois? Apakah aku sejenis manusia tak peduli tak bermoral? Tidak akan menoleh sedikitpun pada orang-orang disana selalu mementingkan urusan pribadi? Entahlah bagaimana aku harus memulainya lagi, memulai untuk lebih baik. Mungkin kata maaf dahulu.

“Kalo ingin ‘uang lebih’ bukan disini tempatnya, nggak cocok sama itu busana.”

“Ah, biar aku usir saja dia bikin dosa!”

Ini salah besar aku menggelengkan kepala meyakini kedua ibu warung yang menghujat tadi. “Uang lebih? Maksudnya, wanita___” Okeh aku tau dengan cepat meninggalkan tempat itu sebenarnya pakaian yang ku pakai ini wajar untuk ke kantor. Pukul 11.30 WIB. Masih sama aku berada di jalanan yang tidak tau arahnya dan sedikit tetesan air hujan yang akhirnya semakin deras.

***

“Hey! Ngapain berdiri disana buruan neduh kesini. Nanti sakit lho mbak.” Lelaki berjaket cokelat disebrang berteriak dan berjalan menghampiri. Aku terkejut saat dia merentangkan jaketnya tepat di atas kepala ku.

“Nah begini lebih baik, mbak ngapain tadi hujanan?”

“Nggak apa.”

“Ya udah aku duluan ya mau ada acara bareng.”

“Bareng keluarga? Atau bareng teman?”

“Maksudnya?! Semuanya sih katanya mereka pada kangen, lagian nggak salah juga saya ngumpul bareng mereka, jenuh kalo harus terus bekerja he..he..he...”

Lelaki itu menaiki motornya bersiap ingin pamitan. Aku menahan tangannya.

“Tunggu!! Alasannya apa?”

“Alasannya, mungkin hanya mereka lah orang yang berharga di hidup saya mbak.”

JLEB. Ribuan bayangan hitam yang ku lihat rasanya sakit. Seperti cahaya yang perlahan-lahan memudar menutupi semua badan ku yang terombang-ambing oleh dosa. Haruskah aku mengakui sekarang. Baiklah akan ku lakukan.

“Mas boleh pinjam handphonenya? Saya ingin meminta maaf pada teman dan keluarga mengatakan bahwa betapa egoisnya saya ini...” 

Kata maaf berhasil ku ucapkan. Hujan berhenti digantikan matahari yang memancarkan sinarnya yang bersemangat. HELLO DUNIA, KALAU AKU MASIH EGOIS TOLONG INGATKAN YA!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

-EPILOG-

Sebelumnya di Part 5

Pagi, di hari minggu. Inilah hari terakhir mereka bertemu untuk dua minggu ke depan. Mita yang akan ikut bertanding mewakili sekolah di kejuaraan basket Internasional dan Lia memutuskan kembali pergi ke Yogya dalam pertemuan penulis muda yang sempat tertunda dulu. Tentu sehari ini menjadi hadiah manis, mengingat Lia pernah bermimpi akan menikmati hari hanya dengan Mita. Maka di mulai dengan menonton film, memasak bersama dan makan es krim di taman sambil mengobrol cerita waktu kecil sampai kepada hal-hal yang tidak begitu penting. Semuanya mengalir secara menyenangkan layaknya persahabatan yang sempurna.

Lia berdiri jauh dari bibir pantai. Dia bersemangat berlari menuju hamparan ilalang luas yang sangat indah, tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Lia menoleh dan melihat Mita berdiri juga di belakangnya.

“Mita ini sangat indah, darimana kau tau tempatnya?” tanyanya sambil mengajak Mita memandang langit penuh siluet senja.

“Dari Wahyu.” jawab Mita singkat.

“Dia sudah masuk ke dalam permasalahan kita aku harus berterima kasih juga nih Mit,” kata Lia bergumam.

“Ini, ada titipan Wahyu untukmu aku lupa waktu itu.” lanjutnya menyodorkan bola kristal berbentuk hati. Sahabatnya tidak mengatakan apa-apa hanya tersenyum. Air mata Mita mulai menetes tapi dengan cepat juga di hapusnya.

“Oh iya, Lia... Setelah ini gue pasti jadi kangen ngejahilin, tidak ada lagi tarik-tarikan rambut huh!” ujar Mita menarik gemas rambut Lia.

“Iya, iya apalagi si Wahyu murung di ruangan OSIS. Nggak kasihan?” sindir Lia.

Masih dalam keadaan pipi memerah, Mita spontan langsung menarik kedua tangan Lia mengacak-ngacak rambut lalu mengelitiknya padahal ia benar-benar memikirkan apa yang di katakan Lia sebelum cewek itu mengatakan dulu. Namun, waktu terus berjalan. Hari telah malam mereka tidak akan pernah melupakan sehari yang terasa singat ini.

Dalam tulisan yang baru di tulisnya di halaman terakhir buku catatan bercoverkan ‘Friendship of Colour’ Lia menyimpulkan: tidak ada terlambat maka tidak ada kehilangan, tidak ada persahabatan maka tidak ada kebersamaan, tidak ada kisah cinta maka tidak ada ketulusan, begitupun pada manusia tidak ada kisah sendiri yang tidak dapat di ceritakan.




~Selesai.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose