Me of Colorful

Sebelumnya di part 2


Carlos mendesah panjang dan melirik jalanan. Meski jalanan tidak dipadatkan oleh kemacetan, halte masih saja dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu kendaraan umum. 
            Jarum jam semakin cepat berjalan. Menjelang  sepuluh menit sebelum tampil di Fashion Week acara tahunan Jakarta yang sudah disiapkan sebulan lalu yang akan ditampilkannya, Carlos masih sibuk berdiam bersama buku bacaan duduk diantara orang-orang di halte. Ia berencana ingin pulang lagi naik bus menuju stasiun kereta ke Bogor.
            Ekspresinya berubah ketika ia melihat perempuan turun dari mobil bergaya sporty langsung menghampirinya. 
            “Carlos, kamu masih disini?”
            Mendengar perempuan itu menyebut “kamu”  Carlos bangkit berdiri meninggalkan halte tetapi pergelangan tangannya ditahan paksa.
            “Lupakan saja yang kemarin gue tau, makanya gue berhak mendapatkannya.”
            Carlos membuang muka ada rasa bersalah dari tatapannya.
            “Nggak apa-apa ini buat kita lebih baik.”
            “Sica...” Panggilnya lirih terlihat sudah lebih rileks.
            “You’re fine?”
            “I’m fine if you're always there without only be hero and friend but together for this soul.. Ca, love you.”
            Sica tersenyum sedih.
            Sejenak Carlos mengelus lembut punggung tangan Sica yang masih ditahannya tadi dan perlahan melepaskannya.
            “Gue lagi nggak minat jadi peraga baju-baju mahal itu dan polesan muka aneh,” ujar Carlos pelan. Suaranya terdengar frustasi. “Ca, buruan balik sana mereka butuh penulis untuk scrift peraga.”
            “Gue juga lagi nggak minat nulis.” Sica menggerlingkan matanya.
            “Kita akan baik setelah ini, ntah akhirnya sampai kapan biarlah waktu yang terbaik. Gue pamit duluan ya.” Lanjutnya sembari membuka pintu mobil.
            Carlos mengangguk ragu.



***


Ini tentang perasaan. Terlalu lama untuk mengakhiri sebuah keputusan kesimpulannya, hanya sekarang. Alunan jemari Monza sedang menekan tuts-tuts piano. Sebagai pianis dia sering di undang buat mengisi suatu acara. Malam ini Monza datang bersama Edvin, kekasihnya yang sudah empat tahun. Di alunan terakhir tuts piano Monza menoleh memandang Edvin yang di sambut senyuman. Selama sesaat raut wajahnya sedih tapi dia harus mengatakan segera. Ia bangkit berjalan mengambil microphone. Monza menahan napasnya sejenak.
            “Mimpi berawal dari patah hati.” Monza memulai dengan senyuman. Lalu ia berkata, “Cinta itu memang teka-teki. Kita bisa mengenal tetapi tidak bisa menjalaninya.”
            Kata-kata yang diucapkan dengan pelan dan serius itu membuat semua orang di aula menatapnya dalam diam.
            “Perasaan ini muncul saat aku mempunyai cinta sejati yang sudah membuatku nyaman. Ternyata cinta bukan saja tentang kenyamanan melainkan perjalanan keyakinan yang tulus. Untuk memikirkannya aku bimbang antara kenyamanan dengan keyakinan berbeda. Begitulah, sangat lucu. Seperti aku memainkan tuts piano hanya merasakan dan tidak tau mengartikan,”
            “Aku benci diriku sendiri. Selama empat tahun belum bisa yakin. Maaf atas keputusan ini, maaf menyiakanmu, maaf untuk waktunya dan maaf harus meninggalkan cinta kita di saat sekarang.”
            Monza tersenyum sedih, menatap Edvin yang berdiri tertunduk. Akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghampiri Edvin sambil memeluknya. “Terima kasih ya,” gumamnya serak menahan tangis.
            “Kau boleh benci aku kapan saja, kalo cinta memang ada pada kita pasti akan datang lagi, bukan?” 
            Edvin mengangguk mencoba terima.
            Monza hanya bisa mengangguk juga tanpa suara.



Daniel dan Jessy Kim tertawa. Mengibaskan tangan di depan wajah Julian seolah melontarkan sesuatu kata mengejek. “Tidak, honey, tidak bisa. Hatiku perlu inspirasi dulu untuk klik dengan percintaan.” Sahut Daniel diikuti kedipan mata sipit Jessy keturunan ayahnya.
            Julian meringis geli. “Woy! Bukan gitu maksud gue.”
            “Atau masih dibayangin perasaan itu ya Lian?!”
            Julian menggeleng. Langsung teringat percakapan terakhirnya ‘sepanjang harapan’. Dia mendengus benci. Sangat benci.
            “Oppa!!”
            Dialek Korea Jessy membuyarkan lamunan Julian.
            “Sekarang sudah larut gue ngantuk,” kata Julian mengakhiri percakapan, lalu menatap kedua temannya, “Pulang gih. Dah, Daniel Jessy.”
            Daniel dan Jessy terlihat bingung.


bersambung...
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebelumnya di part 1

Pukul delapan malam, bel pintu apartemennya berbunyi. Gia terbangun dengan kepala sedikit pusing sepulang dari perjalanan di Bogor tadi ia langsung merebahkan tubuh ke kasur. Gia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah empat jam ia tertidur.
            Gia mendongak menatap orang di balik pintu kamarnya. “Kirain siapa, kenapa?”
            “Gia ih gitu. Gue tadi dari tempat teman, iseng mampir kesini, kebetulan satu apartemen sama Lo baru pindah ke Jakarta.”
            Gia mengangkat bahu. “Ya, yang temannya dimana-mana,” cibirnya yang hanya dibalas dengan tawa.
            Mereka berdua duduk berhadapan di meja dapur yang terdapat kertas-kertas di atasnya dengan cangkir di tangan. Seperti biasa walau dalam kondisi pusing bahkan tidak sehat sekalipun Gia tetap melanjutkan pekerjaannya dari layar laptop.
            “Astaga, benar-benar gila kerja. Ini belum selesai juga? Istirahat dulu Gi.”
            Gia mendengus mengambil alih kertas-kertas yang dibaca temannya.
            “Kalo masih sama coba dulu untuk berbaikan dengan perasaanmu,”
            “Selama perasaan itu membawa lebih baik kenapa nggak kan.”
            “Kau yakin?” Gia merasa hatinya akan baik-baik saja dan ia tidak bisa menahan senyum harunya.
            Teman Gia mengangguk, melambaikan tangan dari arah pintu. “See you!”
            “Thanks, lain kali kalo mampir kesini bawa pizza ya,”
            “Sama chessburger juga.” Lanjutnya. Dari balik pintu apartemen Gia bisa mendengar suara temannya yang menjawab dengan nada protes.
           
“Welcome to Jakarta, bro. The place where somebody busy in this city,” sapa seorang lelaki dengan nametag ‘Daniel’ yang mendekati Julian sambil memasukkan donat ke mulutnya.
            “Eh, Dan, itu donat terakhir gue. Sialan lo datang-datang sok ngingris nggak banget,” ujar Julian sewot.
            Dengan ekspresi santai Daniel menarik kursi sambil mengibaskan tangan kanannya.
            “Ah, gue ketipu, dikira pulang dari UK sono lo ngajakin Bahasa Inggris tampang juga malah makin kumel.”
            “Kejam banget lo, gue bosan dengarin Bahasa Inggris dan kabar baiknya gue disana masuk list cowok playboy,”
            “Sejak melarikan diri itu kemudian tanpa kabar lalu kembali lagi ke Tanah Air,” Daniel menyambung perkataan Julian memberikan penekanan dramatis pada tiap kata.
            Julian tertawa renyah.
            “Lagian lo kenapa baru muncul Lian harusnya buktiin kalo lo memang benar.”
            Tanpa membalas tatapan Daniel ternyata banyak hal yang telah mempengaruhi dirinya selama ini. Apa mungkin masih marah separah itukah? Bagaimana harus memulainya bila semua di anggap salah? batin Julian.
            “Woy Lian! Gue ikut sarapan bareng disini ya sekalian nanti berangkat ngantor kalo sarapan di luar dikira keluyuran jam kerja.”
            “Pantesan rapi. Makanya cepat nikah cari cewek biar ada yang bikin sarapan gue banyak daftar cewek cakep mau satu nggak,” goda Julian.
            “Gue mah nunggu lo aja.”
            Julian memutar bola matanya malas bergegas keluar kamar menuju pintu Lift. “Cepat turun! Nyesal gue ngajak lo pagi-pagi kesini macam wartawan yang lagi cari berita.”
            “Lian, lo lagi nggak nyuruh satpam buat ngusir gue kan?”
            “Nggak lucu. Ya, nggaklah kita mau ke restaurant bawah.”
            “Hehe, teman baik.” Daniel nyengir.
            Semuanya tertawa puas seperti sedang ada perayaan pesta di restaurant ini. Carlos berlari menuju halte yang terdapat di samping restaurant, dengan refleks ia menabrak perempuan  yang terburu-buru membawa buku saat membuka pintu restaurant.
            “Sorry, mas, itu buku saya ada dibelakang tolong ambilin.”
            Carlos menyerahkan buku bertuliskan cover ‘note Gia’.
            Dari dalam restaurant Julian menaikkan alisnya. “Senyam-senyum kenapa lo?”
            “Duh itu Lian pagi-pagi ada adegan romantis di depan pintu.”
            “Yaelah norak lo!”
            Begitu Julian melanjutkan makannya ia menoleh ke arah pintu restaurant tampak perempuan tadi sudah duduk dipojokkan kanan dan lelaki tadi sedang berjalan ke halte sambil membetulkan letak kacamatanya. Tiap orang menyimpan permasalahan sendiri. Pikirnya.




bersambung... Part 3
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cerita bersambung ini diambil dari kehidupan sehari-hari dalam rumitnya sebuah kepercayaan.
Gia Carlos Monza Julian memiliki kisahnya yang berbeda tanpa kaitan
hanya berbagi cerita secara bersamaan dan si Aku akan mengakhiri cerita mereka.

-o-

Sebelumnya di Prolog

            Kondektur kereta menyambut kedatangan penumpang menuju keberangkatan ke  Jakarta. Para penumpang telah memenuhi kereta menyisakan satu bagian kosong yang berada di gerbong dekat toilet. Untuk menghibur penumpang selama perjalanan pihak KA memutarkan musik.
            Sambil tetap memfokuskan diri ke layar laptop, sesekali Gia berenti hanya sekedar melihat pemandangan persawahan di sebelahnya. Ia tersenyum takjub melihat hijaunya sawah tidak menyangka di sudut kota Bogor masih terdapat persawahan. Pikirkan saja hal positifnya ini kesempatan, Gia ngelirik laptopnya, soal ini? Mungkin gue akan coba terima.
            Mata coklat yang benar-benar bulat, mata yang bisa membuat wanita mana pun yang ditatapnya mendadak tidak bisa berpikir apa-apa. Tapi sayangnya, di balik mata coklat itu meng-isyaratkan kehampaan yang mendalam. Carlos menoleh menyapu pandangan ke hamparan sawah. Menghembuskan napas berulang-ulang pertanda keraguan. Betapa bodohnya gue.
            Dari arah gerbong menuju pintu masuk kereta terdengar bunyi handphone, disusul suara perempuan berusia duapuluh tahun yang berseru, “Aku bisa sendiri. Aku baik-baik saja disana. Tenang nanti aku kabarin secepatnya.”
            Kedua temannya berpandangan dan mengangkat bahu.
            “Kamu yakin Mon?” tanyanya, “Kau akan tampil disana untuk memutuskannya?”
            Monza menatap ragu. “Gue ngak tau mungkin itu terbaik membuatnya sedikit sadar.”
            Julian menoleh kearah suara tiga perempuan yang bersebelahan dengan kursinya.
            Matanya bersinar penuh ketidak-sukaan. Sama, gumam Julian menggeleng-geleng. Sepertinya harus berlari saja ngak cukup sampai di sepanjang harapan...
 

***

            Panggilan dari pengeras suara bergema di ruangan kereta. 
            Sebuah pemberitahuan bahwa kereta akan tiba di stasiun. Perlahan kondektur menginstrupeksikan para penumpang untuk mengecek barang bawaan kembali sebelum akan meninggalkan kereta.
            Carlos memandang ke sekeliling orang-orang yang bergegas menuju pintu keluar, tetapi ia tetap memejamkan matanya lagi.
            “Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu merencanakannya Mon?” tanya teman Monza ketika ia berjalan keluar kereta beralih ke loket bus.
            Monza menoleh. “Hm?”
            “Pertimbangkan dulu,” kata temannya. “Aku tau walau mencintai harus ada sakitnya.”
            Kepala Julian berputar kembali menatap kearah tiga perempuan tadi. Dengan malas ia harus melihat perempuan bernama ‘Monza’ itu yang terlihat memaksakan diri balas tersenyum kepada teman-temannya. Dan sangat pembohong, pikirnya. Sangat menyebalkan.
            Monza menundukkan kepalanya dengan ragu ia sudah lelah. Sungguh.
            “Kenapa Mon?”
            Monza tidak menjawab.
            “Kamu harus yakin bisa menyelesaikannya, Oke?”
            Monza mengganguk menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. “Makasih ya kalian, aku harus pergi duluan kita pisah disini.”
            Ia mengangkat wajah memeluk kedua temannya. Mereka memasuki bus masing-masing menuju ke bandara.
            “Sampai ketemu enam bulan lagi,” ujar Monza sambil menyeret koper besarnya.


Carlos, jangan ngehindarin aku terus.
Aku mau kita ngobrol berdua.


Carlos menaruh ponselnya di saku celana jins setelah membaca pesan singkat yang diterimanya. Di lengan kanannya, sebuket bunga matahari terlihat jelas. Bunga itu sebagai perbaikan hubungan, atas kesalahan yang Carlos tidak tau jelas apa.
            Sebelum dirinya berada di kereta ini, ia berniat memberikan bunga matahari tanda semangat pagi mereka tetapi itu tidak sesuai yang diinginkan. Langkahnya malah membawa dirinya menuju kereta ke Jakarta.
            Carlos bangkit berdiri memandang ruangan kereta yang telah kosong. Derap langkahnya terdengar lunglai seiring sebuket bunga matahari yang sudah tergeletak di tong sampah. Lelah.




bersambung... Part 2
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
         
 -Prolog-

            Pernahkah kalian berada dimana masa kepercayaan itu sudah tidak ada lagi? 
            Sesuatu yang harusnya bisa diulang kembali atau bahkan membuat seseorang menjadi dirinya yang berbeda berpura-pura dalam keadaan, merubah keramahan berganti dingin yang menguasai.
Setiap manusia akan menganggap ini berlebihan. Tapi aku malah sebaliknya.
Baiklah, aku juga tidak tau sampai kapan seperti ini mungkin besok dan besoknya lagi akan tetap sama.
Ketika aku melihat sekelilingku ada beberapa orang mengatakan tentang banyak hal mengenai mengapa dan bagaimana, tetap saja aku berdiam di situ, berdiam dalam perasaan yang terus-menerus mengkhawatirkan. Ini hanya ke khawatiran yang terkadang ada di posisi serba salah.
Tapi aku tahu aku harus belajar untuk menghargai kepercayaan. Aku tidak mungkin merubahnya selamanya. Entah nanti itu akan terdengar klise. Cuma satu harapan.
            Buatlah ini untuk lebih baik.
            Yakinkan aku dengan definisi kepercayaan itu.




bersambung... Part 1
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

-EPILOG-

Sebelumnya di Part 5

Pagi, di hari minggu. Inilah hari terakhir mereka bertemu untuk dua minggu ke depan. Mita yang akan ikut bertanding mewakili sekolah di kejuaraan basket Internasional dan Lia memutuskan kembali pergi ke Yogya dalam pertemuan penulis muda yang sempat tertunda dulu. Tentu sehari ini menjadi hadiah manis, mengingat Lia pernah bermimpi akan menikmati hari hanya dengan Mita. Maka di mulai dengan menonton film, memasak bersama dan makan es krim di taman sambil mengobrol cerita waktu kecil sampai kepada hal-hal yang tidak begitu penting. Semuanya mengalir secara menyenangkan layaknya persahabatan yang sempurna.

Lia berdiri jauh dari bibir pantai. Dia bersemangat berlari menuju hamparan ilalang luas yang sangat indah, tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Lia menoleh dan melihat Mita berdiri juga di belakangnya.

“Mita ini sangat indah, darimana kau tau tempatnya?” tanyanya sambil mengajak Mita memandang langit penuh siluet senja.

“Dari Wahyu.” jawab Mita singkat.

“Dia sudah masuk ke dalam permasalahan kita aku harus berterima kasih juga nih Mit,” kata Lia bergumam.

“Ini, ada titipan Wahyu untukmu aku lupa waktu itu.” lanjutnya menyodorkan bola kristal berbentuk hati. Sahabatnya tidak mengatakan apa-apa hanya tersenyum. Air mata Mita mulai menetes tapi dengan cepat juga di hapusnya.

“Oh iya, Lia... Setelah ini gue pasti jadi kangen ngejahilin, tidak ada lagi tarik-tarikan rambut huh!” ujar Mita menarik gemas rambut Lia.

“Iya, iya apalagi si Wahyu murung di ruangan OSIS. Nggak kasihan?” sindir Lia.

Masih dalam keadaan pipi memerah, Mita spontan langsung menarik kedua tangan Lia mengacak-ngacak rambut lalu mengelitiknya padahal ia benar-benar memikirkan apa yang di katakan Lia sebelum cewek itu mengatakan dulu. Namun, waktu terus berjalan. Hari telah malam mereka tidak akan pernah melupakan sehari yang terasa singat ini.

Dalam tulisan yang baru di tulisnya di halaman terakhir buku catatan bercoverkan ‘Friendship of Colour’ Lia menyimpulkan: tidak ada terlambat maka tidak ada kehilangan, tidak ada persahabatan maka tidak ada kebersamaan, tidak ada kisah cinta maka tidak ada ketulusan, begitupun pada manusia tidak ada kisah sendiri yang tidak dapat di ceritakan.




~Selesai.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebelumnya di Part 4

“Sembilan tahun lalu ingat kan saat tersesat di puncak cowok yang ngerawat lo sampai bertemu Lia. Itu adalah gue, Wahyu. Kita sempat kenalan dan lo cerita semuanya tentang sahabatmu Lia walaupun ia sahabat manja dan cengeng. Tapi tetap saja lo nerima apa adanya, ngak mengeluh dan menyenangkan makanya gue ikut juga ngerasa. Eh, rupanya lo juga mudah sedih selalu nanyain ‘kenapa’ jadinya seperti bersalah padahal lo butuh perhatian. Hmm.. kita memang dulu masih kecil dan sampai sekarang, ntah mengapa gue berandai pengen punya pasangan sepertimu Mit. Kemudian... lo menghilang... dan gue, menunggu, ingin selalu ada di samping lo dengan cara begini.” Wahyu membeberkan panjang lebar menerawang jauh di kursi kemudi.
     “Mita, please jangan bersikap dingin pada siapapun gue ngak suka dan gue tau persahabatan kalian hancur karna gue, maaf. Tapi tak ada salahnya untuk kalian memperbaikinya.”
      Mita hanya terdiam karena tidak tahu harus bagaimana merespons kata-kata Wahyu. Terkadang ia memandang Wahyu dengan nanar. Cowok itu memang sudah begitu dekat dengannya, namun... Mita belum bisa menyuruhnya buat menyinggah di relung hati.

     Kini Jazz hitam Wahyu sampai di depan rumah, Mita mengelus pelan tangan kiri Wahyu yang sedang memegang tuas gigi mobil.
     “Makasih. Gue akan mencoba semuanya dengan baik, Yu... jangan terlalu mengkhawatirkan gue. Yang lebih bikin khawatir justru diri lo sendiri.”
     Mita membuka pintu mobil dan segera membuka pagar rumahnya. Gadis itu sudah tidak sabar mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya yang telah berhasil melewati rentetan kejadian. Setidaknya ini diakhiri kejelasan dari Wahyu. Terlebih lagi Wahyu juga suka dengannya. Cuma untuk persahabatan bersama Lia? Akan segera di perbaiki.
    

“Bik Ona ngak berani, non saja yang langsung masuk. Tadi waktu pulang non Mita jutek, suer deh, ciyuuus.” Kata bik Ona pembantu gaul.
     “Ckck lucu deh si bibik. Aku masuk ya bik,”
     Bik Ona mengangguk. Lia diam sejenak, karena masih dalam proses berpikir kalimat apa yang akan ia katakan nanti pada sahabatnya. Terlepas betapa dia sangat mendambakan persahabatan lagi dan terlepas juga masalah yang harus mereka perbaiki.
     “Mit, harusnya aku yang salah. Bukannya ikutan menyelesaikan masalah aku malah kabur gini, aku egois... maaf.” Lia membuka percakapan. Tidak berani menatap wajah Mita yang sedang tidur namun tak disangka Mita mendongakan kepalanya di balik selimut. Sebenarnya sih nyawa dia belum benar-benar terkumpul masih di alam mimpi tapi mendengar suara Lia membuatnya semangat.
     Mita tersenyum tulus sambil memeluk Lia. “Maaf Li, gue memang bego.”
     “Tapi, itu--”
     “Udahlah ngak usah dibahas. Gue aja yang sok gengsi bersikap dingin untungnya Wahyu ngingetin. Sekarang kita sahabatan lagi, kan?”
     “Thanks ya, tentu dong. Cieee yang diingetin.”
     “Haha, Wahyu itu memang pahlawan tapi yang penting kamu tetap sahabat terbaik. Besok jalan yuk! Awas kalau ngak.” Mita kemudian mengulurkan tangan kanannya yang kemudian disambut oleh Lia.



bersambung ke... EPILOG!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose