Me of Colorful

Sebelumnya di Part 2


“Mita lebih baik istirahat, nak. Mama takut kamu lupa seperti kemarin.”
     Sweater biru gelap dirapatkan sampai ujung jari. “Dih mama, Mita sudah lebih baik lagian bosan memandangi kasur plus perlengkapannya itu.” Mita mencibir mendribel bola basketnya ke lantai. “Tapi jangan kelamaan ya!” Kontan Mita langsung mengecup pipi sang mama berjalan menuju pintu pagar.
     Mita duduk bersender di kursi panjang yang terdapat di lapangan komplek. Satu per satu orang berlalu-lalang dan Mita kembali hendak melempar bola ke ring tetapi pikirannya teringat Lia. Apakah dia masih marah? Bukannya kalau marah dia paling lama lima jam tapi... sekarang kok seharian. Mita membuang bola basket asal betapa bodohnya ia baru sadar kalau sifatnya akhir-akhir ini tidak perduli. Terdengar suara mengagetkan, Mita mengenali suara ini. “Aku capek Mit, sepertinya aku bukan sahabat terbaik kamu. Maaf kita harusnya jalani sendiri dulu bila itu sudah lebih baik barulah persahabat akan datang lagi.”
    “Lia, bukan kok lo...” Mita bersuara mengejar Lia yang kian menjauh badannya masih terlalu lemah untuk berlari, ia ternunduk di aspal. “Aduh, kenapa serumit ini?”
  Sebuah balon warna-warni masih utuh tanpa udara oksigen diulurkan di depan Mita. Mita mengambilnya ragu.
     “Wahyu?”
     “Punya nyali juga buat tiup balon nona.” Wahyu menggerlingkan matanya.
     “Eits, sok keren. Emang gue naksir gitu sama mata belong lo.”
     “ngeremeh! Asal lo tau mata gue lebih jelek dari mata semut hahahaha.”
     Mita tertawa sambil memukul pelan pundak Wahyu. Sebuah lelucon konyol dari sang lelaki. Saking asyiknya bersenda gurau, mereka berdua  tidak menyadari balon-balon itu sudah selesai ditiup.
      Happy together with her, i wish always tulis Wahyu di satu balon dan menunjukkannya pada Mita. Gadis itu hanya mengangkat sebelah alis tanda tak mengerti.
     “Nih spidolnya. Tulis apa yang ada dipikiran lo terserah apapun mau mimpi, kemarahan, sedih atau berkesan lalu lepaskan dan terbangkan balonnya.”
     Mita berpikir keras hal apa yang pertama ia tulis di balon ini dengan berat hati akhirnya... i know this wrong but the moment want remember , Friendship is over , i’m sorry... awalnya memang Wahyu menduga Mita akan menuliskannya di tiga balon saja tetapi gadis ini terlalu rapuh semakin banyak balon-balon yang sudah ia tulis dan semakin banyak pula kumpulan balon warna-warni beterbangan di udara.
     “Mita!” Wahyu tidak tahan lagi dan segera mengambil spidol dari tangan Mita. Namun entah sejak kapan, butiran bening gadis itu tertangkap oleh pantulan cahaya senja. Belum sempat menyikut air matanya, Wahyu memeluknya erat hingga bisa mendengar jelas degup jantung di antara keduanya membiarkan ia larut dalam perasaan.
     “Begitulah kehidupan terkadang ada kalanya kita harus membaginya menanggung sendiri tidak akan merubah keadaan malah semakin membuat perasaan sakit. Makanya, dengan cara ini gue bisa lebih baik berbagi pada udara.”
     “Yu, kenapa dia malah menjauh...?” suara Mita masih sengau karena menangis. Mengalih pernyataan Wahyu tadi.
     Semuanya terlihat membeku. Lapangan yang tadinya ramai oleh orang yang berlalu-lalang sudah sepi langit pun berwarna orange kekuningan udara makin dingin. Tin, tin, tin!!! Mama membunyikan klakson mobil dengan kencang. Mita berlari kecil sambil membawa bola basket. “Thanks, gue akan menyuruh superman pensiun dini mengantikan lo hahaha.”  Seru Mita menepuk pelan pundak Wahyu–lagi- Wahyu tersenyum.
     Hingga akhirnya mama menjalankan mobil berbelok ke kanan memasuki perumahan. Sepeninggalan Mita, yang dilakukan Wahyu sekarang malah bergumam. Berarti, benar lo emang mulai mengingatkan... selalu seperti dulu tanpa gue minta... tiap kali ada saja kejutan buat gue... tapi saat lo berkata ‘kenapa’... gue bersalah, Mit, ujarnya dalam hati.
 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
                 Lampu kamar kubiarkan menyala, walau jam sudah menunjukan pukul 23.15 WIB tapi aku masih asyik membenamkan pikiranku pada benda miniatur komedi putar. Entah mengapa akhir-akhir ini hobiku sering melamun. Aku memandang pantulan wajah sayu di cermin, wajah keceriaan berganti menjadi wajah yang memikul permasalahan. Semuanya hilang tidak bersisa. Kini aku menyadari udara dingin sudah menyergap tubuhku ternyata sejak tadi hujan telah turun. Gemuruh petir mengagetkanku, aku bersembunyi di balik selimut sangat takut.
                 Saat malam semakin larut, hujan juga semakin deras dan aku menjerit kesetanan membanting  benda di sekitar. Hingga terdengar satu suara ketukan yang sangat keras. Seseorang dengan mata masih setengah tertutup berjalan mendekatiku.
                Aku memeluknya.
                “Kenapa belum tidur? Enggak apa-apa, semua akan baik saja, Mita.”
                Tanganku gemetar menangis di pundak tegapnya.

                “Gue takut suara itu.”
                “Jangan takut lagi karna masih ada gue disini.”
                “Wahyu, kau jangan pergi...”
                Wahyu terdiam dan memalingkan wajahnya menatap ke arah pintu.
                 Ketika menyadari perkataanku barusan aku memberi jeda waktu supaya ia bisa mengatakan sesuatu hal juga.
“Kau jahat!”
                Wahyu masih tetap terdiam dalam pikiran. Aku berhenti menatapnya mendorong paksa tubuhnya untuk keluar dari kamarku. Lampu padam. Aku siap tertidur dengan pipi yang masih basah karena air mata dan pikiran yang kian kusut tanpa ujung.


***

                 Senyuman cowok itu memudar pandangan seketika-tapi sejurus kemudian ia duduk di kursi panjang taman lebih tepatnya duduk di sebelahku bersama anak perempuan. Kuberanikan diri untuk mengeser dudukku sengaja supaya tak terlalu dekat aku hanya ingin sendiri. Ia memasang wajah bingung menatap ke arahku. Diam-diam aku juga menatap matanya dalam- dalam tak kutemukan cahaya di mata itu, kekosongan yang di dapat. Apa yang bisa kuharapkan dari sosok cowok yang baru aku jumpai?
                “Ada apa ya?” protesnya.
                “Sorry”
                “Bukan, maksud aku, kenapa kamu menatap begitu seperti menyimpan kesedihan.”
                Aku menghela napas, “Kamu orang baru jangan sok tau.”
                Dia berbalik badan menatap anak perempuan di sebelahnya dengan tatapan nanar. “Aku tau itu. Tak ada yang bisa paham tentang masalah hidup bahkan pada anak empat tahun.”
                “Ini adikku usianya beda 18 tahun dariku, saat lahir ia sudah tidak mempunyai orang tua. Kami bisa bertahan hanya karna mimpi saja. Aku berjanji untuk terus membuatnya bahagia dengan cara apapun asalkan dia tetap merasakan bahagia.”
                “Lebih baik mengejar kebahagian daripada harus mencari yang hilang dan tak akan pernah kembali lagi, bagian mana dalam dirimu yang kamu cintai? Maka bahagiakanlah dia.”
                Hening.
                Tatapan mataku mengeluarkan bulir air mata, terasa sesak di dada.
                “Aku ini egois! Egois!”

                “Menataplah ke depan, coba kau lihat itu!” serunya, ia menarikku hingga ke danau lalu mengendong adik perempuannya. Terlihat sekumpulan burung-burung kecil bertengger di dahan pohon dan pelangi terekam di balik tenangnya air danau.
                “Simpan air matanya. Aku harap sekarang kamu mau cerita padaku.”



bersambung... suara mimpi (end)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Oleh Darwis Tere Liye

Orang dewasa, saat ditanya, kenapa kita belajar menulis? Kalau jawabannya: agar bisa menerbitkan buku. Maka itu benar-benar membelokkan tujuan mulia dari menulis. Saat ditanya, kenapa kita belajar memasak? Kalau jawabannya: agar bisa jadi master cheft, punya restoran mahal, maka itu juga benar-benar membelokkan tujuan mulia dari memasak. Orang dewasa, saat ditanya, kenapa sekolah tinggi-tinggi? Kalau jawabannya: agar bisa kaya raya, berkuasa, maka itu benar-benar membelokkan tujuan mulia dari mencari ilmu.

Anak-anak, saat ditanya, kenapa kita belajar naik sepeda? Tidak ada anak-anak yg akan menjawabnya, agar bisa jadi pembalap sepeda, bisa ikut tour de france. Kebanyakan akan menjawab karena senang saja, karena ingin bermain sepede bersama teman yang lain. Simpel, tapi menjelaskan tujuan yang mulia. Juga saat belajar main bola, berenang, anak-anak akan menjawabnya sederhana. Atau bilang ingin seperti Om Messi, Om Ronaldo, tapi maksud mereka main bolanya seperti dua Om itu, bukan gaya hidup, kaya raya--orang dewasalah yang kadang menakjubkan begitu jauh mikirnya. Kenapa kita lupa betapa sederhananya waktu dulu kita jadi anak-anak? Kita belajar merangkak, buat apa? Kita belajar berjalan, buat apa? Kita belajar berlari, buat apa? Kita lakukan saja, dengan senang hati. Dan berhasil semua. Tidak ada yang gagal belajar waktu kecil, bukan? Mayoritas sukses semua. Itu benar, kita kadang digoda dengan cokelat, mainan oleh orang tua, dan kita tertawa patah-patah melangkahkan kaki mendekat, tapi mana ada anak kecil yang perhitungan sekali saat belajar. 

Saya tidak tahu, pada detik ke berapa kita mulai punya pemahaman yang terbalik soal proses belajar ini. Entahlah. Siapa yang memulainya, siapa yang menanamkannya. Karena menurut hemat saya, akan indah sekali, saat semua orang belajar menulis, misalnya, dia simply hanya ingin menulis, dan terus, terus, terus menulis. Kesuksesan akan datang sendiri. Buku-buku akan terbit. Dan berbagai milestone lainnya. Kenapa kita belajar tinggi-tinggi untuk jadi dokter? Akan sangat indah saat orang-orang hanya ingin menjadi dokter yang baik, membantu banyak orang. Kesuksesan akan datang sendiri. Kaya, terkenal. Bahkan saat kita tolak semua materi tersebut, kita menjauh, urusan duniawi itu tetap mendekat-dekat.

Ini kesekian kali saya menulis tentang hakekat proses belajar. Maka semoga satu-dua saja paham, mulai memutuskan menyukai sekolahnya, kuliahnya, sebenar-benarnya karena ingin mencari ilmu, itu sudah sebuah langkah awal dari sebuah proses panjang yang menyenangkan. Se-aneh apapun pilihan jurusan kita, setidak terkenal, dianggap remeh, kita tetap bisa menjadi yang terbaik jika tujuannya memang belajar dan menjadi terbaik di bidang itu. Lakukan dengan riang, lakukan tanpa beban, dan kita lihat hasilnya.

Pegang tulisan ini, dan silahkan cerita 10-20 tahun lagi. Apakah rumus ini keliru atau benar.



*Just short info's for you, thanks!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose