Me of Colorful

Semburat cahaya pagi menerpa wajah walau sekarang memasuki musim dingin tapi salju belum turun mungkin pertengahan bulan. Aku terharu mengamati setiap sudut kedai ini. Pikiranku menerawang ke beberapa bulan silam saat aku tidak punya apa-apa dan harus tinggal sendirian di kota besar tanpa tempat tinggal. Namun ada seseorang yang berbaik hati mempercayaiku menjadi owner kedai miliknya. Yah, inilah kedai kopi yang berada di belakang ruko penduduk. Terpencil memang banyak orang yang bingung mencarinya. Tapi lihatlah sekarang, masih pukul delapan pagi saja meja sudah hampir dipenuhi pengunjung. Resep kopi terbaru di musim dingin selesai kubuat. 

Aku mendapati dua kiriman surat sekaligus di atas meja kerjaku. Sama seperti hari-hari kemarin tanpa nama si pengirim, tidak ada tulisan apapun di amplopnya.

Ini adalah surat ke-empat yang ku terima. Sebenarnya aku menganggap surat-surat ini hanyalah surat biasa. Bahkan dari surat pertama sampai sekarang pun belum kubuka, hanya ditaruh di kotak berwarna hijau saja. Akan tetapi, lama-kelamaan aku selalu mendapatkan surat itu di setiap harinya. Topik pembicaraan mengenai surat-surat ini ternyata menjadi pertanyaan besar bagi diriku tentang apa isi dan siapa pengirimnya.

Ya Tuhan! Apa maksudnya?

Mataku menyelidik, melihat sekeliling ruangan kedai yang tidak terlalu besar. Orang-orang semakin riang bercengkerama. Semuanya bergembira tidak tampak ada kecurigaan. Aku menghela napas panjang. Mana mungkin pengirim surat ini salah-satu dari pengunjung kedai. Meski aku penasaran ingin sekali membukanya, entah mengapa hatiku menolaknya.


***

Menjelang minggu ketiga, terlihat jendela telah ditutupi uap yang berasal dari hembusan angin salju sejak semalam. Aku menoleh sebentar ke arah luar. Sangat menyenangkan melihat salju yang turun perlahan, sembari merapatkan jaketku. Minggu pertama di musim dingin memang sangat terasa. Makanya jangan heran, terkadang orang-orang memakai pakaian berlapis-lapis. Soal surat? Aah, masih sama. Surat ke-enam dan aku tidak mau membukanya.

Sepanjang hari banyak hal yang telah aku renungkan. Tentang hidup dan surat itu.

Akuilah semejak kehidupanku berubah tidak lagi seperti dulu. Muncul juga surat misterius. Dunia sungguh sempurna, permasalahan datang beriringan dengan suatu kebahagiaan tanpa kita sadari. Layaknya bintang malam yang siap menunggu peradaban senja. Hadirnya memberikan makna tersendiri.

Mendadak air mataku jatuh. Menangis bahagia bahwa Tuhan sangat perhatian dengan makhlukNya.

Ragu. Gemetar tanganku meraih kotak surat. Sepertinya aku mulai tau.



Teruntuk belahan jiwa. Salam rindu dan maaf...
Perjalanan yang mengajarkan tentang perubahan. Awalnya aku sama sekali gak ingin membuka suratmu, ntah sudah ada berapa pertanyaan yang hinggap dipikiranku. Semejak saat itu pula aku tersadar dari perjalanan yang berbelok. Setelah aku renungkan, lambat waktu aku baru mengerti apa maksud suratmu ini. Maaf atas sikap yang dingin.
Selama tiga bulan aku di kota besar, tidak ada apapun yang aku pikirkan selain pekerjaan kecuali aku sangat amat merindukan kalian. Mungkin aku yang bersalah meninggalkan kalian tanpa seorang ibu bagi anak-anaknya. Hanya karna kekecewaan dan rasa malu. Ternyata Tuhan menyayangiku, kalau bukan oleh seseorang yang berbaik hati itu mungkin aku sekarang sudah menjadi gelandangan. Kamu tau? Itu berarti kesalahanku bertambah. Tapi gak, Tuhan masih memberi kesempatan lagi untuk memperbaiki ini semua. Melalui surat-suratmu. Dengan surat itu juga aku masih mengingat awal pertemuan kita. Tentang bertukar cerita saling mengirimkan surat di tiap minggunya.
Bukan perkara mudah bagi kita memutuskan tali pernikahan. Aku masih sangat mencintaimu kamu pun demikian. Disini saja aku masih memandang kotak hijau itu menunggu kalau-kalau di dalamnya terdapat salah-satu suratmu. Menyadari terdapat surat tanpa pengirim di amplopnya, aku sadar mungkin itu surat darimu. Kamu pernah bilang, “tanpa alasan, cinta memiliki ciri khasnya walau terkadang menjauh, menghilang dan bersembunyi tapi cinta sejati tetap bersama di tempat semestinya yaitu hati.”
Dan ciri khas cinta sejatiku gak pernah salah. Surat itu benar darimu. Aku gak tau harus bagaimana sekarang, sepertinya aku lebih senang bersama kalian lagi disana. Biarlah aku menanggu risiko apa yang aku perbuat nantinya asalkan aku tetap bersama kalian seperti dulu, mencintai kalian, dan gak akan meninggalkan kalian.
Kamu tetap sama bahkan saat aku bersalah juga kamu selalu mengigatkanku akan guratan sisa-sisa penyesalan. Menutupnya dengan goresan indah. Mari ajarkan aku untuk memperbaikinya. Terima kasih yang terbaik. Hanya kata maaf terdalam, aku masih sayang. Secepatnya semoga kita bisa menjalin bersama lagi, untuk memaknai setiap pertumbuhan langkah malaikat-malaikat kecil kita. See ya!!
Istrimu, Vanya


***

“Hai!”  terdengar suara berat memecah kesunyian. Pria itu tersenyum.

Aku melepaskan kacamataku, menoleh berbalik ke arah sumber suara.

“Vanya, aku juga masih sangat mencintaimu. Jangan pergi lagi. Kami merindukanmu rumah sepi tanpa seorang ibu dan ka__”

“Ergh, a,.. aku, minta maaf atas semuanya, maafin mama juga ya sayang.” Aku memotong ucapannya, menunduk lemah. Merangkul dua malaikat kecil ini. Mereka semakin bergelayutan manja. Sepertinya sangat rindu.

“Eh, bagaimana kau tahu aku disini?”

Ia sedikit bingung menatapku. Aku berdehem pelan.

“Ciri khas cinta sejatiku gak pernah salah, selalu menunggu di depan kotak surat, yah seperti sekarang ini.” Dia memeluk sembari mengelus lembut kepalaku, tertawa lepas. Aku balas mengulum senyum dibalik bahunya. Musim dingin yang berkesan.

Sungguh kebahagiaan abadi!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
         
 -Prolog-

            Pernahkah kalian berada dimana masa kepercayaan itu sudah tidak ada lagi? 
            Sesuatu yang harusnya bisa diulang kembali atau bahkan membuat seseorang menjadi dirinya yang berbeda berpura-pura dalam keadaan, merubah keramahan berganti dingin yang menguasai.
Setiap manusia akan menganggap ini berlebihan. Tapi aku malah sebaliknya.
Baiklah, aku juga tidak tau sampai kapan seperti ini mungkin besok dan besoknya lagi akan tetap sama.
Ketika aku melihat sekelilingku ada beberapa orang mengatakan tentang banyak hal mengenai mengapa dan bagaimana, tetap saja aku berdiam di situ, berdiam dalam perasaan yang terus-menerus mengkhawatirkan. Ini hanya ke khawatiran yang terkadang ada di posisi serba salah.
Tapi aku tahu aku harus belajar untuk menghargai kepercayaan. Aku tidak mungkin merubahnya selamanya. Entah nanti itu akan terdengar klise. Cuma satu harapan.
            Buatlah ini untuk lebih baik.
            Yakinkan aku dengan definisi kepercayaan itu.




bersambung... Part 1
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebelumnya... Dibawah Awan


Nindi menyeka ujung-ujung matanya setelah Tivon selesai menceritakan sosok Aurora kekasihnya. Setengah jam lalu taman ini sudah lengang. Cuma terlihat orang yang berlalu-lalang saja. Tivon memberikan buku yang ingin Nindi lihat di perpustakaan tadi.
        “Nih, kamu bisa pinjam kapanpun. Thanks udah mau mendengar obrolan suntuk gue. Hey, kamu nggak apa kan?” Tivon menatap tajam. Menyelidik.
        “A-pa?!”
        “Kok balik nanya. Ini mau sore mendingan kamu pulang ntar pacarmu nyariin.”
        “Nggak! Stop! Jangan sebut itu lagi!!”
        Pria berkulit kecoklatan ini terkejut melihat reaksi yang dilontarkan gadis di sebelahnya ia tidak bertanya lebih lanjut, terdiam dengan pikiran masing-masing. Langit sore masih berwarna biru yang sedikit ditutupi oleh awan. Seketika, seperti luka yang tiba-tiba disentil, Nindi langsung tersadar. “Cih, endingnya nggak happy. Lama banget jadi nunggunya. Untung Aurora nggak sejahat itu,” serunya menoleh ke Tivon sambil menyibakkan anak rambut yang diterpa oleh angin.
        “Begitulah... Ayo kita duduk disana saja.” Tivon tersenyum kecil membantu Nindi berdiri. Lalu, keduanya berjalan menuju kursi yang disediakan di taman.
        “Gue bingung, apa sebenarnya kamu punya kepribadian ganda?”
        Nindi terkikik. “Elo ini benar-benar bebal. Geli tau!”
        “Serius!”
        Bukannya malah menjawab Nindi sibuk membenarkan tali sepatunya, membuat Tivon kian bete. Nindi tampak menimbang-nimbang sesuatu berdiri mendekati airmancur yang terdapat di kolam kecil. “Sudahlah, gue memang begini kok. Jangan dibikin ribet gitu,”
        “Maaf ya tadi gue nggak suka soal elo tanyain pacar. Gue hanya nggak mau mengharap yang lebih dan ujungnya sesaat.”
        Tivon tersenyum memaklumi. Percayalah, hal yang menakutkan di dunia ini adalah merasa kehilangan. Kehilangan atas apa yang mereka perjuangkan juga atas dasar yang mereka sayangi. Nindi menatap kosong langit sore, langit di penuhi awan-awan yang bergerak dengan sempurna. 
       Tivon memalingkan wajahnya tak bisa berkata lagi kemudian menelan ludah. Dia merasa nyaman saat gadis ini bawel terus-terusan berbicara daripada yang berdiam dengan tatapan kosongnya.
       “Kalo kamu nggak keberatan... sekarang giliran gue yang harus dengar curhatan” Nindi mengernyitkan dahi tapi sedetik kemudian tersenyum kepada Tivon.



Cinta pertama atau apalah ini dimulai saat aku baru menyadarkan ketulusannya. Empat tahun lalu, aku tidak tau apakah aku yang meninggalkan dia atau sebaliknya. Karena kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Meninggalkan yang aku maksud bukan kekecewaan tapi rasa takut. Takut? Ya mungkin. Namanya Reno. Pemuda yang aku kenal lewat chatting dan ternyata temanku temannya juga.
       SMS tiap hari masuk di handphone ku tak pernah absen selalu saja dari Reno. Ntah itu obrolan bahkan hal tidak penting sekalipun. Hari-hari berikutnya, masih sama SMS dari dia apalagi Reno makin perhatian kadang melibatkan aku dalam aktifitas layaknya pacar. Terkadang bisa dewasa untuk  menempatkan suasana orang lain. “Jangan pernah ragu kalo belum mencoba, main drum itu dari hati nggak sulit kok, nanti Reno ajarin.” Dia berkata di seberang telpon saat aku kepengen belajar nge-drum dengan nada ragu.
       Gemetar tanganku membuka SMS darinya yang sudah lama Reno tidak mengabarkan.
       “Maaf jangan marah ya, Reno kemarin masuk rumah sakit, yuk SMS lagi.”
       Aku menghembuskan napas legah tapi sedikit khawatir. Hari berikutnya. Reno seperti memberi kode untuk menyatakan perasaannya. Dia menyukaiku. Terlalu polos aku mengartikan sampai-sampai menyuruhnya untuk jadi teman saja. Di hari yang berbeda dia antusias memikirkan rencana buat ulang tahun kami di bulan yang sama padahal itu masih lama. Benar-benar romantis. Hari berikutnya Reno menghilang. Aku memaklumi. Seminggu setelah itu aku nekad terus mencoba menghubunginya.
        Aku tertegun menerima sebuah SMS. “Ini mamanya, maaf, untuk sekarang Reno tidak boleh diganggu dalam penyembuhan sakit.” Merasa Reno adalah pria tulus dari pria yang aku temukan dalam putaran perasaan yang tidak mengerti ini semakin lama aku mencintai dia. Tapi dia lah juga yang meninggalkan berjuta pertanyaan membuatku harus melupakannya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose