Me of Colorful

                 Lampu kamar kubiarkan menyala, walau jam sudah menunjukan pukul 23.15 WIB tapi aku masih asyik membenamkan pikiranku pada benda miniatur komedi putar. Entah mengapa akhir-akhir ini hobiku sering melamun. Aku memandang pantulan wajah sayu di cermin, wajah keceriaan berganti menjadi wajah yang memikul permasalahan. Semuanya hilang tidak bersisa. Kini aku menyadari udara dingin sudah menyergap tubuhku ternyata sejak tadi hujan telah turun. Gemuruh petir mengagetkanku, aku bersembunyi di balik selimut sangat takut.
                 Saat malam semakin larut, hujan juga semakin deras dan aku menjerit kesetanan membanting  benda di sekitar. Hingga terdengar satu suara ketukan yang sangat keras. Seseorang dengan mata masih setengah tertutup berjalan mendekatiku.
                Aku memeluknya.
                “Kenapa belum tidur? Enggak apa-apa, semua akan baik saja, Mita.”
                Tanganku gemetar menangis di pundak tegapnya.

                “Gue takut suara itu.”
                “Jangan takut lagi karna masih ada gue disini.”
                “Wahyu, kau jangan pergi...”
                Wahyu terdiam dan memalingkan wajahnya menatap ke arah pintu.
                 Ketika menyadari perkataanku barusan aku memberi jeda waktu supaya ia bisa mengatakan sesuatu hal juga.
“Kau jahat!”
                Wahyu masih tetap terdiam dalam pikiran. Aku berhenti menatapnya mendorong paksa tubuhnya untuk keluar dari kamarku. Lampu padam. Aku siap tertidur dengan pipi yang masih basah karena air mata dan pikiran yang kian kusut tanpa ujung.


***

                 Senyuman cowok itu memudar pandangan seketika-tapi sejurus kemudian ia duduk di kursi panjang taman lebih tepatnya duduk di sebelahku bersama anak perempuan. Kuberanikan diri untuk mengeser dudukku sengaja supaya tak terlalu dekat aku hanya ingin sendiri. Ia memasang wajah bingung menatap ke arahku. Diam-diam aku juga menatap matanya dalam- dalam tak kutemukan cahaya di mata itu, kekosongan yang di dapat. Apa yang bisa kuharapkan dari sosok cowok yang baru aku jumpai?
                “Ada apa ya?” protesnya.
                “Sorry”
                “Bukan, maksud aku, kenapa kamu menatap begitu seperti menyimpan kesedihan.”
                Aku menghela napas, “Kamu orang baru jangan sok tau.”
                Dia berbalik badan menatap anak perempuan di sebelahnya dengan tatapan nanar. “Aku tau itu. Tak ada yang bisa paham tentang masalah hidup bahkan pada anak empat tahun.”
                “Ini adikku usianya beda 18 tahun dariku, saat lahir ia sudah tidak mempunyai orang tua. Kami bisa bertahan hanya karna mimpi saja. Aku berjanji untuk terus membuatnya bahagia dengan cara apapun asalkan dia tetap merasakan bahagia.”
                “Lebih baik mengejar kebahagian daripada harus mencari yang hilang dan tak akan pernah kembali lagi, bagian mana dalam dirimu yang kamu cintai? Maka bahagiakanlah dia.”
                Hening.
                Tatapan mataku mengeluarkan bulir air mata, terasa sesak di dada.
                “Aku ini egois! Egois!”

                “Menataplah ke depan, coba kau lihat itu!” serunya, ia menarikku hingga ke danau lalu mengendong adik perempuannya. Terlihat sekumpulan burung-burung kecil bertengger di dahan pohon dan pelangi terekam di balik tenangnya air danau.
                “Simpan air matanya. Aku harap sekarang kamu mau cerita padaku.”



bersambung... suara mimpi (end)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Oleh Darwis Tere Liye

Orang dewasa, saat ditanya, kenapa kita belajar menulis? Kalau jawabannya: agar bisa menerbitkan buku. Maka itu benar-benar membelokkan tujuan mulia dari menulis. Saat ditanya, kenapa kita belajar memasak? Kalau jawabannya: agar bisa jadi master cheft, punya restoran mahal, maka itu juga benar-benar membelokkan tujuan mulia dari memasak. Orang dewasa, saat ditanya, kenapa sekolah tinggi-tinggi? Kalau jawabannya: agar bisa kaya raya, berkuasa, maka itu benar-benar membelokkan tujuan mulia dari mencari ilmu.

Anak-anak, saat ditanya, kenapa kita belajar naik sepeda? Tidak ada anak-anak yg akan menjawabnya, agar bisa jadi pembalap sepeda, bisa ikut tour de france. Kebanyakan akan menjawab karena senang saja, karena ingin bermain sepede bersama teman yang lain. Simpel, tapi menjelaskan tujuan yang mulia. Juga saat belajar main bola, berenang, anak-anak akan menjawabnya sederhana. Atau bilang ingin seperti Om Messi, Om Ronaldo, tapi maksud mereka main bolanya seperti dua Om itu, bukan gaya hidup, kaya raya--orang dewasalah yang kadang menakjubkan begitu jauh mikirnya. Kenapa kita lupa betapa sederhananya waktu dulu kita jadi anak-anak? Kita belajar merangkak, buat apa? Kita belajar berjalan, buat apa? Kita belajar berlari, buat apa? Kita lakukan saja, dengan senang hati. Dan berhasil semua. Tidak ada yang gagal belajar waktu kecil, bukan? Mayoritas sukses semua. Itu benar, kita kadang digoda dengan cokelat, mainan oleh orang tua, dan kita tertawa patah-patah melangkahkan kaki mendekat, tapi mana ada anak kecil yang perhitungan sekali saat belajar. 

Saya tidak tahu, pada detik ke berapa kita mulai punya pemahaman yang terbalik soal proses belajar ini. Entahlah. Siapa yang memulainya, siapa yang menanamkannya. Karena menurut hemat saya, akan indah sekali, saat semua orang belajar menulis, misalnya, dia simply hanya ingin menulis, dan terus, terus, terus menulis. Kesuksesan akan datang sendiri. Buku-buku akan terbit. Dan berbagai milestone lainnya. Kenapa kita belajar tinggi-tinggi untuk jadi dokter? Akan sangat indah saat orang-orang hanya ingin menjadi dokter yang baik, membantu banyak orang. Kesuksesan akan datang sendiri. Kaya, terkenal. Bahkan saat kita tolak semua materi tersebut, kita menjauh, urusan duniawi itu tetap mendekat-dekat.

Ini kesekian kali saya menulis tentang hakekat proses belajar. Maka semoga satu-dua saja paham, mulai memutuskan menyukai sekolahnya, kuliahnya, sebenar-benarnya karena ingin mencari ilmu, itu sudah sebuah langkah awal dari sebuah proses panjang yang menyenangkan. Se-aneh apapun pilihan jurusan kita, setidak terkenal, dianggap remeh, kita tetap bisa menjadi yang terbaik jika tujuannya memang belajar dan menjadi terbaik di bidang itu. Lakukan dengan riang, lakukan tanpa beban, dan kita lihat hasilnya.

Pegang tulisan ini, dan silahkan cerita 10-20 tahun lagi. Apakah rumus ini keliru atau benar.



*Just short info's for you, thanks!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebelumnya di Part 1



“Yap, dan dia seperti ‘welcome’ atas kerjasama ini. Gue ngerasa berterima kasih atas idenya.” Tit. Wahyu menyudahi percakapan via handphonenya.
     “Kenapa wawancaranya hari ini, kan gue belum ada persiapan apa-apa Yu.” Mita menggeser kursi café melirik Wahyu yang sedang memilih daftar menu.
     “Sebenarnya besok gue harus mengumumkan pemenang artikel jadi bisanya sekarang. Tenang wawancaranya nggak susah kok. Mit, gue pesanin coco lemon rice fried ya?” Wahyu tersenyum lalu waiter berpakaian coklat datang.
     “Berapa mas?”
     “Dua. Minumnya juga dua bubble mint tea.”
     Mita mengernyit takut makanan dan minuman yang dipesan Wahyu tadi beracun
dari namanya saja terdengar aneh. Dia merengangkan tubuhnya sebentar memerhatikan sekeliling cafe,  di setiap sudut terpajang berbagai macam bunga segar sedangkan di depannya ada panggung beserta pemain musiknya. Alunan suara merdu dari biola membuat suasana kian romantis. Seperti dinner bersama pangeran berkuda.
     “Mit… buruan dimakan kok melamun.”
     “Eh, I, iya.” Mita kikuk ternyata
dua menit yang lalu makanan sudah datang.
     “Habis dari sini kita wawancara. Gimana enak nggak pesanannya?”

     “Enak. Tunggu bentar Yu gue mau ke toilet.”
     Setelah di dalam toilet, Mita mendesah kesakitan penyakit asam lambungnya kembali kambuh terkadang tangan kanan dan kirinya bergantian memegangi perut. Inilah yang membuat Mita izin seminggu latihan basket.
     Dua puluh menit berlalu makanan di meja tak sedikitpun di sentuh Wahyu ia tidak bernapsu kalau hanya makan sendiri tapi sudah tiga gelas menghabiskan bubble mint teanya.  Mata Wahyu mencari dimana Mita berada cowok itu khawatir sampai sekarang dia belum balik juga. Wahyu memanggil nama Mita dari depan toilet wanita. Tak lama kemudian pintu ruangan toilet terbuka. Kontan Wahyu kaget melihat kondisi Mita yang terlihat nyaris pingsan.
     “Mita?! Kenapa lo? Maaf gue nggak tau kalau lo sedang sakit.”
     “Hah? Aduh, nggak tau nih ke... napa bisa dadakan begini Yu...” ujar Mita lemas.
     Kontan Wahyu menghampiri Mita kemudian mengendongnya ke mobil. “Udah, diem lo.” Wahyu berucap Mita hanya bisa pasrah saat tubuhnya digendong padahal tadi ia ingin protes. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Mita tidak ada percakapan yang terjadi di keduanya sehingga terdengar sangat jelas suara lagu if you belive yang dipopulerkan oleh Mandy Moore dari radio mobil Wahyu. Kondisi Mita kini lumayan baik walaupun wajahnya masih pucat. Seketika Wahyu merasa ada yang kembali pada dirinya setelah melirik Mita yang tertidur di samping kursi kemudi. Ketenangan.

***

Sejak pukul 06.50 banyak murid-murid yang sudah penasaran sekaligus antusias mengerumuni mading untuk membaca pemenang lomba dan artikel terbaru maklum SMA ini unggulan di bidang sastra dan olahraganya apalagi setiap satu bulan sekali ada majalah sekolah. Lia terus menekuk muka hatinya gusar sama sekali tidak minat dengan artikel itu padahal ia menang. Entah mengapa intuisinya keras mengatakan sekarang dia adalah sahabat egois. Alasan pertama Lia memaksa Mita kembali seperti dulu, kemudian menyuruh Wahyu mempercepat wawancaranya saat itu Mita sedang pemulihan dari sakit dan sekarang ia berkelahi dengannya. Semalam Lia menelpon Mita memaksa supaya besok tetap sekolah karna ada artikelnya terbit lalu Mita menolak tapi ia malah menghardik sahabatnya yang bukan-bukan menyangka bahwa Mita sakit bohongan.
     Begitu Lia melintasi lapangan basket tiba-tiba Wahyu mengadangnya tangan kirinya membawa berkas-berkas map. Membuat Lia menghentikan langkah.
     “Nah, kebetulan Lia, jadi nih berkasnya yang mau di ketik ulang. Selamat juga lo menang artikel.” Ucapnya sambil mencari-cari seseorang.
     “Makasih. Cari apa?”
     Wahyu tersenyum mengusap keningnya yang tidak gatal. “Hehe... Mita mana?”
     “Masih sakit ya. Gue mau kasih ini sama dia, titip salam ya.” Lia mengangguk ragu sesaat mengambil bola kristal hati dari tangan Wahyu. “Oke.”

Pelajaran terakhir sudah sepuluh menit yang lalu. Jadi, jarang ada yang pulang duluan terkecuali para brandal-brandalan sekolah. Untuk murid gossipers langsung beria melanjutkan aksinya di kantin. Sedangkan buat murid teladan masih berkutat dengan aktifitas ekskul ataupun sekedar membaca di perpustakaan. Sebelum pulang Lia masih ngedumel sendiri mengenai kesulitan fisika tadi biasanya Mita lah pahlawannya.
     Bus menepi di pinggir halte Lia bergegas masuk untungnya ia duduk supaya bisa mengangkat handphonenya yang dari tadi berdering.
    “Hallo? Iya mbak. Alhamdulillah... Kapan saya harus berangkat? Oh, Makasih.”  Kini Lia lupa dengan tingkah ngedumelnya beralih berganti kegembiraan di wajahnya.


bersambung... Part 3
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose