Me of Colorful

Cerita bersambung ini diambil dari kehidupan sehari-hari dalam rumitnya sebuah kepercayaan.
Gia Carlos Monza Julian memiliki kisahnya yang berbeda tanpa kaitan
hanya berbagi cerita secara bersamaan dan si Aku akan mengakhiri cerita mereka.

-o-

Sebelumnya di Prolog

            Kondektur kereta menyambut kedatangan penumpang menuju keberangkatan ke  Jakarta. Para penumpang telah memenuhi kereta menyisakan satu bagian kosong yang berada di gerbong dekat toilet. Untuk menghibur penumpang selama perjalanan pihak KA memutarkan musik.
            Sambil tetap memfokuskan diri ke layar laptop, sesekali Gia berenti hanya sekedar melihat pemandangan persawahan di sebelahnya. Ia tersenyum takjub melihat hijaunya sawah tidak menyangka di sudut kota Bogor masih terdapat persawahan. Pikirkan saja hal positifnya ini kesempatan, Gia ngelirik laptopnya, soal ini? Mungkin gue akan coba terima.
            Mata coklat yang benar-benar bulat, mata yang bisa membuat wanita mana pun yang ditatapnya mendadak tidak bisa berpikir apa-apa. Tapi sayangnya, di balik mata coklat itu meng-isyaratkan kehampaan yang mendalam. Carlos menoleh menyapu pandangan ke hamparan sawah. Menghembuskan napas berulang-ulang pertanda keraguan. Betapa bodohnya gue.
            Dari arah gerbong menuju pintu masuk kereta terdengar bunyi handphone, disusul suara perempuan berusia duapuluh tahun yang berseru, “Aku bisa sendiri. Aku baik-baik saja disana. Tenang nanti aku kabarin secepatnya.”
            Kedua temannya berpandangan dan mengangkat bahu.
            “Kamu yakin Mon?” tanyanya, “Kau akan tampil disana untuk memutuskannya?”
            Monza menatap ragu. “Gue ngak tau mungkin itu terbaik membuatnya sedikit sadar.”
            Julian menoleh kearah suara tiga perempuan yang bersebelahan dengan kursinya.
            Matanya bersinar penuh ketidak-sukaan. Sama, gumam Julian menggeleng-geleng. Sepertinya harus berlari saja ngak cukup sampai di sepanjang harapan...
 

***

            Panggilan dari pengeras suara bergema di ruangan kereta. 
            Sebuah pemberitahuan bahwa kereta akan tiba di stasiun. Perlahan kondektur menginstrupeksikan para penumpang untuk mengecek barang bawaan kembali sebelum akan meninggalkan kereta.
            Carlos memandang ke sekeliling orang-orang yang bergegas menuju pintu keluar, tetapi ia tetap memejamkan matanya lagi.
            “Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu merencanakannya Mon?” tanya teman Monza ketika ia berjalan keluar kereta beralih ke loket bus.
            Monza menoleh. “Hm?”
            “Pertimbangkan dulu,” kata temannya. “Aku tau walau mencintai harus ada sakitnya.”
            Kepala Julian berputar kembali menatap kearah tiga perempuan tadi. Dengan malas ia harus melihat perempuan bernama ‘Monza’ itu yang terlihat memaksakan diri balas tersenyum kepada teman-temannya. Dan sangat pembohong, pikirnya. Sangat menyebalkan.
            Monza menundukkan kepalanya dengan ragu ia sudah lelah. Sungguh.
            “Kenapa Mon?”
            Monza tidak menjawab.
            “Kamu harus yakin bisa menyelesaikannya, Oke?”
            Monza mengganguk menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. “Makasih ya kalian, aku harus pergi duluan kita pisah disini.”
            Ia mengangkat wajah memeluk kedua temannya. Mereka memasuki bus masing-masing menuju ke bandara.
            “Sampai ketemu enam bulan lagi,” ujar Monza sambil menyeret koper besarnya.


Carlos, jangan ngehindarin aku terus.
Aku mau kita ngobrol berdua.


Carlos menaruh ponselnya di saku celana jins setelah membaca pesan singkat yang diterimanya. Di lengan kanannya, sebuket bunga matahari terlihat jelas. Bunga itu sebagai perbaikan hubungan, atas kesalahan yang Carlos tidak tau jelas apa.
            Sebelum dirinya berada di kereta ini, ia berniat memberikan bunga matahari tanda semangat pagi mereka tetapi itu tidak sesuai yang diinginkan. Langkahnya malah membawa dirinya menuju kereta ke Jakarta.
            Carlos bangkit berdiri memandang ruangan kereta yang telah kosong. Derap langkahnya terdengar lunglai seiring sebuket bunga matahari yang sudah tergeletak di tong sampah. Lelah.




bersambung... Part 2
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Welcome 20th.  Makin banyak pembelajaran serta dosa hehe. Alhamdulillah Allah selalu menyayangi dan melindungi. Doa kan menjadi khalifah yang bermanfaat. Aamiin...

Untuk kehidupan yang sesederhana ini saya lebih banyak berdiam dalam renungan mengamati setiap proses terjadi dari yang dialami orang lain, tentunya diri sendiri juga. Intinya Tuhan memang adil punya rencana yang bisa dijadikan inspirasi. Sama seperti pada postingan sebelumnya. saya mengalami suatu kekecewaan dan mencari zona nyaman. Tapi ternyata saya salah.

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang memotivasi siapapun itu. 

3 tahun lalu, lebih tepatnya saat mengenal tentang mimpi. Dalam seusia yang labil dan kurangnya 'jati diri' mungkin memaklumi. Tekad saya saat itu ingin sukses. Sukses yang saya minatkan. Misalnya menjadi sastra, dokter hewan atau ilmu komunikasi. Semua yang saya inginkan itu tiba-tiba lenyap mungkin diibaratkan menunggu senja yang ada malah mendung. Di saat itu juga saya mengarahkan diriku mengikuti arusnya membiarkan bertepi tanpa tujuan yang pasti. Pengecut. Memalukan.

Tidak banyak pemikiran positif yang saya cerna. Selalu terfokus pada insting si minat. Yah, akibatnya menyesal sendiri.

Dan sekarang saya tau kalo disini 'jalan' Allah yang menuntun dan harusnya bersyukur. Memang dulu menjadi seorang penulis, psikolog, wartawan, dokter adalah mimpiku. Tetapi bahwa 'jalan' ini lah yang spesial membawa pada jatuh-berdiri untuk sukses nangis-tawa di setiap cerita duka-suka prosesnya. Maafin selama ini saya belum sadar terkesan cuek. Untuk mengikhlaskan keadaan saya tidak akan egois lagi menganti minat ke terbiasa. Karena Engineer pilihan yang terbaik. Bukan keinginan yang diberi Tuhan tapi Tuhan tau apa yang di butuh. Insya Allah menyukainya sama hal seperti saya suka menulis :))


NT: 20th ini sama gk ada perayaan dan ucapan yang banyak lagi mungkin lupa yaa, gk apa asalkan kalian gk lupa kalo selamanya sayang kalian
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Yang Maha Kuasa. Aku bersyukur bisa mengenal dunia yang bersifat semu ini darinya aku tau arti kehidupan sesungguhnya tentang dua hal berbeda, kesalahan dan kebenaran. Tapi terkadang kalimat menyerah yang selalu dilontarkan, menyadari betapa lemahnya hamba. Ntah sejak kapan aku merasa diriku kosong hidup tanpa jiwa yang pasti. Sebentar-sebentar perasaan kian berbeda. Capek? Kalo dibilang iya mana mungkin aku bertahan sampai sekarang namun sebenarnya aku hanya kurang peka saja. Mencari cinta yang sama sekali tidak tau apa definisi cinta itu sendiri. Mungkin cinta disini universal, menyeluruh.

Seperti anak kecil yang baru mengenal lingkungan. Seperti itulah cinta di kehidupan ku. Ada banyak kata-kata yang tidak bisa aku jelaskan secara deskripsi. Di sisi lain aku takut untuk melangkah jauh. Peng-khianatan dan ketidak-adilan yang akhirnya harus di dapat.

Untuk saat ini, aku hanya bisa menjaga cinta yang benar-benar terlihat. Membuat tersenyum dan tidak akan mengecewakannya tetap beristiqomah memperbaiki diri. Cinta kepada Tuhan dan Orang Tua. Dari terlahir sebagai “kertas bersih” ternyata cintaNya memang sudah datang dengan apa adanya. Selebihnya, butuh proses mengenal cinta lain yang pasti. Tuhan, izinkan aku menyapa cinta yang lain itu. Aku mohon.

Bila waktu datang, jika aku akhirnya jatuh juga... buatlah cinta atas dasar cinta karenaMu, menuntut dijalan yang mengajarkan kebaikan, cinta yang sama-sama belajar memahami kehidupan, cinta yang menemukan titik akhir, cinta yang tulus setelah cinta padaMu, cinta yang berwarna kebahagiaan dan selalu menunggu untuk disapa.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose