Me of Colorful

Sebelumnya di... Suara Mimpi


“Sebenarnya aku juga seperti adikmu orang tua ku meninggal setengah tahun lalu. Setengah tahun itupun aku hidup di jiwa suram selalu menyendiri, sampai kakakku yang selisih 8 bulan lebih tua dariku tidak ku perdulikan padahal berkatnya aku bisa hidup.”
            Aku berpikir sebentar, “Kenangan manis telah berantakan aku malah mencoba ingin mengulangi lagi yang kadang buatku sakit dan takut tak peduli bagaimana. Setelah aku menyadari tentang kisahmu itu, ternyata aku masih beruntung aku sangat malu.”
            Kami saling menatap, diam dalam kesunyian.


Langit cerah  terlihat sangat mendukung buat anak-anak untuk bermain. Berulang-kali cowok ini membujuk adiknya pulang. Raut wajahku menjadi sedih jika harus berpisah sama mereka, aku mulai merasa nyaman.
            “Biarkan saja kalau dia masih mau main.” Ucapku seraya tersenyum.
            Ia balik tersenyum.
            “Hey kakak cantik! Namaku Lula dan kakakku ganteng namanya Ikmal, kakak siapa?” Cowok bernama Ikmal itu berbicara
tiba-tiba dengan suara di buat cadel seperti anak kecil. Aku tertawa untuk pertamanya setelah 6 bulan yang lalu. Humoris pikirku.
            “Hey juga Lula manis. Nama kakak Mita. Mau es
krim?”
            “Mau kak! Mau! Mau!”
            “yuk Lula, kamu mau es krim vanilla, stroberi atau coklat.”
            “Stroberi kak.”  Kata Lula yang masih kesusahan menyebut huruf ‘r’
            Lucu sekali! Seruku dalam hati. Aku sedikit berjongkok memeluk tubuh munggil Lula lalu, mencubit pipinya dengan gemas. Apakah ini namanya kebahagiaan hanya mendengar suara-suara mimpi yang selalu ada? Aku menyesal telah melupakannya. Oh, Tuhan, maafkan hambamu.


***


“Wahyu…” panggilku pelan.
            Deg. Rasanya kaku membuka suara. Aku berusaha mengatur perasaanku yang mulai tak stabil. Namun Wahyu malah menyuruhku untuk ikut duduk di sofa disampingnya.
            “Gue nggak akan pergi, sesuai permintaanmu. Tiket pesawatnya dibatalin.”
            Satu kata meluncur dari bibirku, tanpa kuduga. “Maaf.”
            Wahyu menyapu wajahku, matanya memiliki arti sendiri. Ia bangkit berdiri berjalan mendekati balkon dan mengeluarkan kembang api. Aku bertanya-tanya, ada apa? Kami kemudian melewati balkon tadi, dan sejauh mata memandang ada beberapa tanaman hias di samping balkon sengaja papa buatkan di lantai
dua agar bisa berhadapan langsung dengan kamar mama yang sekarang menjadi kamarku. Banyak kenangan disana.
            Aku menatap lekat kedua mata Wahyu setelah ia memberikan satu batang kembang api yang telah nyala. Sedangkan sejak tadi tangan kirinya sudah mengenggam erat jemariku.
            “Bulan desember tahun lalu kita berempat berkumpul disini.”
            Aku masih menatapnya juga masih diam, dan mendengarkan.
            “Lalu papa menyuruh kita berdua buat mengucapkan mimpi-mimpi.”
            Mimpi? Bodoh, aku baru mengerti. Kembang api inilah yang menjadi saksi kami untuk mengucapkan mimpi. Makanya, aku dan Wahyu antusias sekali memamerkan mimpi kami kepada papa-mama.
            “Ingat janji kita, tepat sekarang di bulan desember
, kita akan mengatakan mimpi lagi.” Belum sempat aku ingin berkata, Wahyu memejamkan mata, mulutnya berucap dalam hati. Ia melirikku.
            “Ayo Mit, kau juga mengucapkan mimpi. Papa-mama akan bahagia mendengarnya.”
           
“Baiklah...” Aku melakukan hal sama seperti Wahyu.
            Langit malam semakin gelap ada banyak bintang-bintang yang memancarkan cahaya.
Menit berikutnya, aku dan Wahyu sudah bersenderan di balkon. Terdengar suara merdu. Yah! Wahyu bernyanyi berusaha untuk menghangatkan suasana.
            Itulah kali pertama aku menyadari
ia benar-benar kakak yang baik.
            Aku tersenyum lebar. Sangat bahagia.




-selesai-
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebelumnya di Part 2


“Mita lebih baik istirahat, nak. Mama takut kamu lupa seperti kemarin.”
     Sweater biru gelap dirapatkan sampai ujung jari. “Dih mama, Mita sudah lebih baik lagian bosan memandangi kasur plus perlengkapannya itu.” Mita mencibir mendribel bola basketnya ke lantai. “Tapi jangan kelamaan ya!” Kontan Mita langsung mengecup pipi sang mama berjalan menuju pintu pagar.
     Mita duduk bersender di kursi panjang yang terdapat di lapangan komplek. Satu per satu orang berlalu-lalang dan Mita kembali hendak melempar bola ke ring tetapi pikirannya teringat Lia. Apakah dia masih marah? Bukannya kalau marah dia paling lama lima jam tapi... sekarang kok seharian. Mita membuang bola basket asal betapa bodohnya ia baru sadar kalau sifatnya akhir-akhir ini tidak perduli. Terdengar suara mengagetkan, Mita mengenali suara ini. “Aku capek Mit, sepertinya aku bukan sahabat terbaik kamu. Maaf kita harusnya jalani sendiri dulu bila itu sudah lebih baik barulah persahabat akan datang lagi.”
    “Lia, bukan kok lo...” Mita bersuara mengejar Lia yang kian menjauh badannya masih terlalu lemah untuk berlari, ia ternunduk di aspal. “Aduh, kenapa serumit ini?”
  Sebuah balon warna-warni masih utuh tanpa udara oksigen diulurkan di depan Mita. Mita mengambilnya ragu.
     “Wahyu?”
     “Punya nyali juga buat tiup balon nona.” Wahyu menggerlingkan matanya.
     “Eits, sok keren. Emang gue naksir gitu sama mata belong lo.”
     “ngeremeh! Asal lo tau mata gue lebih jelek dari mata semut hahahaha.”
     Mita tertawa sambil memukul pelan pundak Wahyu. Sebuah lelucon konyol dari sang lelaki. Saking asyiknya bersenda gurau, mereka berdua  tidak menyadari balon-balon itu sudah selesai ditiup.
      Happy together with her, i wish always tulis Wahyu di satu balon dan menunjukkannya pada Mita. Gadis itu hanya mengangkat sebelah alis tanda tak mengerti.
     “Nih spidolnya. Tulis apa yang ada dipikiran lo terserah apapun mau mimpi, kemarahan, sedih atau berkesan lalu lepaskan dan terbangkan balonnya.”
     Mita berpikir keras hal apa yang pertama ia tulis di balon ini dengan berat hati akhirnya... i know this wrong but the moment want remember , Friendship is over , i’m sorry... awalnya memang Wahyu menduga Mita akan menuliskannya di tiga balon saja tetapi gadis ini terlalu rapuh semakin banyak balon-balon yang sudah ia tulis dan semakin banyak pula kumpulan balon warna-warni beterbangan di udara.
     “Mita!” Wahyu tidak tahan lagi dan segera mengambil spidol dari tangan Mita. Namun entah sejak kapan, butiran bening gadis itu tertangkap oleh pantulan cahaya senja. Belum sempat menyikut air matanya, Wahyu memeluknya erat hingga bisa mendengar jelas degup jantung di antara keduanya membiarkan ia larut dalam perasaan.
     “Begitulah kehidupan terkadang ada kalanya kita harus membaginya menanggung sendiri tidak akan merubah keadaan malah semakin membuat perasaan sakit. Makanya, dengan cara ini gue bisa lebih baik berbagi pada udara.”
     “Yu, kenapa dia malah menjauh...?” suara Mita masih sengau karena menangis. Mengalih pernyataan Wahyu tadi.
     Semuanya terlihat membeku. Lapangan yang tadinya ramai oleh orang yang berlalu-lalang sudah sepi langit pun berwarna orange kekuningan udara makin dingin. Tin, tin, tin!!! Mama membunyikan klakson mobil dengan kencang. Mita berlari kecil sambil membawa bola basket. “Thanks, gue akan menyuruh superman pensiun dini mengantikan lo hahaha.”  Seru Mita menepuk pelan pundak Wahyu–lagi- Wahyu tersenyum.
     Hingga akhirnya mama menjalankan mobil berbelok ke kanan memasuki perumahan. Sepeninggalan Mita, yang dilakukan Wahyu sekarang malah bergumam. Berarti, benar lo emang mulai mengingatkan... selalu seperti dulu tanpa gue minta... tiap kali ada saja kejutan buat gue... tapi saat lo berkata ‘kenapa’... gue bersalah, Mit, ujarnya dalam hati.
 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
                 Lampu kamar kubiarkan menyala, walau jam sudah menunjukan pukul 23.15 WIB tapi aku masih asyik membenamkan pikiranku pada benda miniatur komedi putar. Entah mengapa akhir-akhir ini hobiku sering melamun. Aku memandang pantulan wajah sayu di cermin, wajah keceriaan berganti menjadi wajah yang memikul permasalahan. Semuanya hilang tidak bersisa. Kini aku menyadari udara dingin sudah menyergap tubuhku ternyata sejak tadi hujan telah turun. Gemuruh petir mengagetkanku, aku bersembunyi di balik selimut sangat takut.
                 Saat malam semakin larut, hujan juga semakin deras dan aku menjerit kesetanan membanting  benda di sekitar. Hingga terdengar satu suara ketukan yang sangat keras. Seseorang dengan mata masih setengah tertutup berjalan mendekatiku.
                Aku memeluknya.
                “Kenapa belum tidur? Enggak apa-apa, semua akan baik saja, Mita.”
                Tanganku gemetar menangis di pundak tegapnya.

                “Gue takut suara itu.”
                “Jangan takut lagi karna masih ada gue disini.”
                “Wahyu, kau jangan pergi...”
                Wahyu terdiam dan memalingkan wajahnya menatap ke arah pintu.
                 Ketika menyadari perkataanku barusan aku memberi jeda waktu supaya ia bisa mengatakan sesuatu hal juga.
“Kau jahat!”
                Wahyu masih tetap terdiam dalam pikiran. Aku berhenti menatapnya mendorong paksa tubuhnya untuk keluar dari kamarku. Lampu padam. Aku siap tertidur dengan pipi yang masih basah karena air mata dan pikiran yang kian kusut tanpa ujung.


***

                 Senyuman cowok itu memudar pandangan seketika-tapi sejurus kemudian ia duduk di kursi panjang taman lebih tepatnya duduk di sebelahku bersama anak perempuan. Kuberanikan diri untuk mengeser dudukku sengaja supaya tak terlalu dekat aku hanya ingin sendiri. Ia memasang wajah bingung menatap ke arahku. Diam-diam aku juga menatap matanya dalam- dalam tak kutemukan cahaya di mata itu, kekosongan yang di dapat. Apa yang bisa kuharapkan dari sosok cowok yang baru aku jumpai?
                “Ada apa ya?” protesnya.
                “Sorry”
                “Bukan, maksud aku, kenapa kamu menatap begitu seperti menyimpan kesedihan.”
                Aku menghela napas, “Kamu orang baru jangan sok tau.”
                Dia berbalik badan menatap anak perempuan di sebelahnya dengan tatapan nanar. “Aku tau itu. Tak ada yang bisa paham tentang masalah hidup bahkan pada anak empat tahun.”
                “Ini adikku usianya beda 18 tahun dariku, saat lahir ia sudah tidak mempunyai orang tua. Kami bisa bertahan hanya karna mimpi saja. Aku berjanji untuk terus membuatnya bahagia dengan cara apapun asalkan dia tetap merasakan bahagia.”
                “Lebih baik mengejar kebahagian daripada harus mencari yang hilang dan tak akan pernah kembali lagi, bagian mana dalam dirimu yang kamu cintai? Maka bahagiakanlah dia.”
                Hening.
                Tatapan mataku mengeluarkan bulir air mata, terasa sesak di dada.
                “Aku ini egois! Egois!”

                “Menataplah ke depan, coba kau lihat itu!” serunya, ia menarikku hingga ke danau lalu mengendong adik perempuannya. Terlihat sekumpulan burung-burung kecil bertengger di dahan pohon dan pelangi terekam di balik tenangnya air danau.
                “Simpan air matanya. Aku harap sekarang kamu mau cerita padaku.”



bersambung... suara mimpi (end)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts
ana's. Powered by Blogger.

About me



"Semua ditulis atas pendapat ego, filosofi sosial, dan diskusi santai. Tulisan saya tidak istimewa hanya pengingat untuk saya baca ketika sulit berekspresi berharap seperti minuman yang diseduh; menghangatkan."

Social Media

  • LinkedIn
  • Twitter
  • Gmail

Categories

  • Artikel (2)
  • Cerita Bersambung (10)
  • Cerita Pendek (12)
  • Ceritaku (9)
  • Opini (9)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  December (1)
      • Cerita Berlanjut
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2019 (7)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2018 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (3)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (6)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  November (2)

Free Blogger Templates Created by ThemeXpose