SEARCH!

Memuat...

Kamis, 24 November 2011

OPINI: Bila teman terindah


Punya teman sungguh indah apalagi bila dia tau di saat kita membutuhkan ‘aluran tangan’ dia selalu menemani. Bagi saya teman itu lebih berharga loh dari sesosok pacar atau cowok yang kita taksir atau apalah teman tetap nomer satu! Tapi bagaimana bila sang teman hanya ingin memanfaatkan???

Teman. Satu kata punya makna yang berbeda. Tidak ada alasan juga untuk memilih teman sebetulnya di syukuri masih ada orang yang mau berteman dengan kita bukan malah menolak nikmat yang Allah berikan. Pengalaman yang selalu di ingat-ingat itu saat pertama perkenalannya, kenapa? Itulah yang membuat kita tau apakah dia termasuk teman yang setia dan tulus. Saya sendiri begitu canggung juga awalnya basa-basi “siapa namanya” “tinggal dimana” atau “nanti pulang bareng ya” maklum saya pendiam sama orang yang baru di lihat. Jangan salah jika sudah kenal luar-dalam saya akan setia teman (Insya Allah)

Menurut survei sebagian orang faktor yang membuat putusnya tali pertemanan 1) tidak mau saling terbuka atau ada sesuatu yang di tutupi 2) datang di saat perlu karna lebih mementingkan ego 3) merasa minder tidak ada yang mau memaafkan 4) mungkin dia telah berubah tidak perduli lagi dengan kita. Kemungkinan salah-satu yang sering terjadi pada nomer empat tanpa ada alasan atau pernyataan yang jelas dia berubah menjauh dari kita. Itu juga pernah terjadi pada saya sendiri, saat tau dia begitu saya langsung mengoreksi diri mungkin benar saya yang salah sebelum kita meminta penjelasan dari dia.

Seburuk apapun temanmu sejelek apapun temanmu itu juga temanmu hargailah kalau kamu mau dihargai.

Menerima kekurangan teman bukan mencari kelebihan teman berarti kamu termasuk teman sejati yang tidak mementingkan ego. Teman sejati berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Teman sejati tidak pernah melupakan kenangan manismu. Teman sejati selalu hadir bersamamu. Jadilah teman yang di butuhkan supaya membuat siapapun senang kepada kita.

CERPEN: Kisahku

Sumber: google.com
Jakarta, Indonesia. 16 Juni 1996…

Saat pagi itu aku tidak merasakan akan ada sesuatu yang menimpa keluargaku keadaan berjalan normal seperti biasa bunda menyiapkan sarapan, ayah membaca Koran paginya dan aku bersiap ingin berangkat ke sekolah kami berkumpul di meja makan kebetulan akan membahas planning liburan tahunan sekalian merayakan ultah ku yang ke-7 tahun.
      
     Selepas dari pulang sekolah perasaan ku tidak baik. Langit siang itu memang cerah tapi tidak bisa menghilangkan rasa kekhawatiranku. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Bayang-bayang kedua orang-tua ku berkecambuk di pikiran ini, ku terobos semua orang di trotoar jalan yang menghalangi ku sial! Turun hujan. Aku tidak kuat lagi untuk berlari energi ku terkuras tapi langkah kaki ini memaksa hosh hosh hosh nafasku tersenggal-senggal aku telah sampai di depan rumah eh, apa itu? Ini tidak mimpi kan? Tiba-tiba pipiku terasa hangat air mataku mengalir. Dengan kejamnya seseorang telah membunuh kedua orang-tua ku pisau menancap di perut mereka sebuah pemandangan yang tidak seharusnya di lihat oleh bocah 7 tahun sepertiku. “Jangan pergi!!!”

-o-
Paris, Prancis. 8 Desember 2010…

Minggu, 20 November 2011

CERPEN: Prince of my heart

Sumber: google.com

“Setiap wanita sejati pasti mempunyai pangerannya, pangeran yang selalu di dambakannya, pangeran yang hadir bagaikan pahlawan dalam hidupnya, dan cintai pangeranmu dengan setulus hati tanpa berharap yang lebih walau itu sakit sekalipun”
      
     Lihat itu! Tampaknya dia menanggung beban yang harus ditanggung sendiri. Sungguh sudah menjadi gambaran yang lumrah bila dia sering termenung di hamparan pantai dengan hembusan ombak dan semilir angin. Biarkan wanita ‘itu’ menghibur dirinya jangan ganggu dia ku mohon.

“seharusnya aku tau dari dulu bahwa pangeran itu hanya ada di negeri dongeng” ucapnya pasrah.
     Kasihan sekali dia andai saja ada seorang yang menghiburnya tapi nyatanya tidak ada seorang pun di pantai itu. tunggu! Dia menjatuhkan buku diary tertulis di halaman pertama kertas warna merah menyala dengan guratan spidol hitam merangkai huruf M-I-T-A sepertinya itu namanya.

CERPEN: Love in Summer

     Musim Panas. Akhirnya musim itu kembali datang lagi membawa banyak cerita dihatiku dan foto ini yang akan menjadi saksinya. Namaku Pramita nama yang indah memberi semua orang kebahagiaan semoga itu benar terjadi. Oke! Aku tak tahan melihat foto yang tertempel di album ini kubuka lembar demi lembar membuat air mataku terjatuh juga.

***
    
     Pagi cerah di awal musim panas. Aku terperanjat dari tempat tidurku melihat kalender diatas meja belajar yah sekarang tanggal 2 yang sudah aku tandai sebagai hari dimana aku Jadian dengan mantan pacarku. 
“Kenapa foto gUE dengan lelaki ini masih ada?! Cukup wahyu! CUKUP!!!”
    
Mulutku berteriak tidak suka tapi hatiku berkata kalau aku masih sangat mencintainya sungguh itu benar! Ku sobek foto itu menjadi beberapa bagian sehingga tidak berbentuk lagi sembari aku menarik nafas foto itupun sudah berada dikotak sampah.
“Maaf wahyu hanya dengan ini gue bisa melupakanmu. Pliss jangan menghantui pikiran gue”
    
Seseorang memelukku dari belakang nafasnya terdengar jelas dengan sigapnya ku tampar orang itu.
“Sorry mit, bukan maksud gue untuk masuk ke kamar elo tiba-tiba tapi____”
“Dasar elo sama saja seperti wahyu Mal, gue kecewa sahabat macam apa lo? HAH?!”
“OKE! Memang gw bukan sahabat baik. Perlakuan gw tadi karena gw ingin melindungi elo! Gue ngak mau nanti kejadian yang kemarin terulang lagi terserah mau percaya atau tidak. Permisi..”

CERBUNG: Seberkas Cahaya (Jilid 3)


-Keluargaku-

    cerita sebelumnya di: Seberkas Cahaya (Jilid 2) 

     Sabtu siang, aku dan Ikmal duduk di dermaga, aku menceritakan semuanya kepada Ikmal tentang kiriman e-mail dari ayah yang menyuruhku untuk tinggal di Hamburg sebuah kota di Jerman Timur bersama bunda dan kedua saudara kandungku. Terlihat raut wajah Ikmal sedikit sedih dia hanya tertunduk lemas tanpa merenspon pembicaraanku.
“Ikmal, elo taukan bahwa tidak selamanya perkenalan itu baik tidak selamanya juga kebahagiaan ada untuk kita? Aku percaya itu semua yang terkadang seberkas cahaya datang padaku begitu juga kamu”
“Tapi__ hmm, gue tidak seperti elo mit membuat semuanya berwarna”
     Sepertinya memang tidak mudah untuknya. Aku mengarahkan pandanganku ke arah kapal-kapal yang sedang lewat, sejenak berpikir agar Ikmal bisa menerima keputusanku ini.
“Coba kamu lihat langit di ujung sana! Luas dan indah? yup, sama halnya orang-orang di sana yang butuh kamu saat mereka juga menginginkan sahabat sepertiku dulu. Bukan berarti secepat itu mal yakinlah aku juga tidak akan pernah melupakanmu”
     Hening. Hening. Dan hening. Keadaan yang sangat aku tidak sukai! Oh Tuhan semoga Ikmal mengerti sejujurnya aku juga berat berpamitan dengannya. Ikmal sahabat yang baik dan Tuhan telah memberikannya untukku tapi rencana Tuhan tidak ada yang tau. Aku tidak bisa berlama-lama disini akhirnya aku beranjak pergi meninggalkan Ikmal sendiri.
“Mimit!!! tunggu, gue mau ngomong sebentar sebelum elo pergi!”

CERPEN: Bayangan di Kehidupan


     Seperti biasanya bayangan itu selalu hadir di setiap aku sendiri. Bukan bayangan biasa itu lebih tepatnya sosok bayangan yang terkadang membuatku takut terkadang juga membuatku penasaran. Kehidupan ini hanyalah sementara begitupun dengan segala cobaan-cobaan yang Tuhan berikan.
    
sumber: google.com
     Aku merasakan ada seseorang yang membisikanku. Suara yang terdengar sangat menulikan telinga. Selepas dari mengerjakan tugas dosen dari rumah temanku Dara, aku pamit pulang kutepis guyuran hujan yang membasahiku. Panggil saja aku Mita.

*

“Pliss temaniku disini! Bayangan itu selalu datang saat aku sendiri, aku takut..”
“Gue ngak enak dengan Wahyu Mit. Hmm..oke kalau itu maunya kamu”
    
     Dengan setia Ikmal menemaniku sampai abangku wahyu menjemput pulang. Tidak ada pembicaraan serius antaraku dan Ikmal karena aku lebih fokus pada bayangan itu yang seringkali datang tiba-tiba.
“Ikmal sosok bayangan itu datang lagi dia bilang nanti ada musibah dikampus ini!”
“HAH?! Serius? Sekarang apa yang perlu kita lakuin?”
    

Sabtu, 19 November 2011

CERBUNG: Seberkas Cahaya (Jilid 1)


-Catatanku-

Terkadang seseorang melupakan hal yang sedemikian kecil padahal hal kecil itulah yang bisa berdampak kepada hal yang besar, hanya SEBERKAS CAHAYA yang dibutuhkan saat ini…
  
     Aku akan tetap menjadi diriku sendiri dan aku akan menjadi yang terbaik dikala sayap-sayap itu patah, daun-daun telah berguguran ataupun bintang yang hilang saat malam tiba tapi aku tetaplah sosok makhluk Tuhan yang bukan sempurna. Kenalkan namaku Mita seorang Penulis.

***
      
     Berbagi sedikit cerita boleh? Tentu saja ceritaku ini sangat miris bisa dibilang “Dunia tidak adil” tepatnya saatku terhanyut dalam kejadian 15 tahun lalu aku dirawat di tempat penampungan anak karena kesibukkan orang tua, teman-temanku disana cerita bahwa “dunia tidak adil dia tidak pernah tersenyum kepada kami!” ucapan polos yang keluar dari mulutnya aku juga dulu menanggapinya seperti itu dan seiring berjalannya waktu aku bertekad semua yang dikatakan temanku salah besar itu janjiku padanya yah SEBUAH JANJI.

*
     Apa yang terlintas dibenak kalian melihat saudara-saudara kita bergelut dengan kerasnya kehidupan? Bagaimana bila kita di posisi mereka?? Dan pemandangan itu yang sekarang ada di depan mataku melihatnya saja tidak tega wajah-wajah mereka penuh kenanaran dan belas kasihan airmataku tertahan di pelupuk mata hampir saja tertumpahkan.

CERBUNG: Seberkas Cahaya (Jilid 2)


-Sahabatku-

cerita sebelumnya di: seberkas cahaya (Jilid 1)
Flashback
      Di sinilah aku berada sekarang, menatap langit malam yang bertabur bintang. Hanya tampak seberkas cahaya. Yang ada di sekitarku suara sepi. Diam. Tenang. Angin melewati kulitku menembus tulang terasa dingin. Dan aku dapat melihat dua orang sahabat bercanda-gurau di depanku. Tapi aku tidak dapat merasakannya. Sesuatu aroma kebahagian bilaku memiliki sahabat.
“Hay! Kamu suka menulis ya? Keren banget kata-katanya hehehe”
     Sebenarnya, aku tidak tau sejak kapan cowok berambut jabrik ini duduk disampingku. Aneh. Tapi sekilas orangnya asyik di ajak berteman. Eh! Apa sih?! bertemu aja baru pertama apalagi namanya.
“Kenapa? Terkejut? Maaf deh,, namaku Ikmal kita satu sekolah tapi kelasku XI IPA 4 kamu IPA 2 kan?” 
     APA? Satu sekolah! Oon’ku kambuh. Daripada aku mati gaya mending lihat cowok jabrik ini dari ujung ke ujung balik kanan finish kiri, sebelum aku membalas jabatan tangannya. Seberkas cahaya bantulah aku apakah dia pantas menjadi sahabatku kelak? Dan aku membalas perkenalannya.
“Iya. Aku sendiri Mita. Lucu rambutnya”
“Ckck. kamu lebih lucu. Mau jadi sahabatku, Mita?”